Temuan mortir PD II di Dago Bandung bertambah jadi 108 buah

id mortir di dago bandung

Petugas Jihandak TNI Angkatan Darat menata mortir yang ditemukan di rumah warga yang terletak di Gang Cinta Wangi, Dago, Bandung, Jawa Barat, Rabu (6/3/2019). Pada hari kedua evakuasi, petugas menemukan total 118 mortir yang diduga peninggalan pada perang dunia II. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/aww.

Bandung (ANTARA) - Penemuan mortir pada sebuah rumah di Gang Cinta Wangi, Dago, Kota Bandung, Jawa Barat, bertambah menjadi 108 buah dari sebelumnya hanya ditemukan 88 buah mortir di lokasi yang sama.

Komandan Distrik Militer 0618/BS, Kolonel Inf Hery Subagyo, Rabu, mengatakan saat ini pihaknya telah menemukan 20 buah mortir tambahan dari pagi hingga siang hari.

"Sampai saat ini totalnya sudah ada 108 buah, kemarin yang sudah kita amankan di gudang Paldam ada 88 buah," kata Herry.

Tim gabungan dari TNI, Polri dan Satuan Jibom (penjinak bom) saat ini masih melakukan proses pencarian mortir tersebut. Herry menduga masih ada sejumlah mortir yang belum bisa terangkat.

"Ini masih sedang proses dan kita harapkan bisa kita tuntaskan, karena kita duga masih ada beberapa buah mortir yang belum bisa kita angkat semuanya," katanya.

Dia belum bisa memprediksi selesainya pencarian tersebut. Namun faktor keselamatan menjadi yang utama, mengingat sejumlah mortir tersebut masih berstatus aktif. Hingga kini proses pencarian masih menggunakan cara manual.

"Karena kondisi mortir ini sudah tertimbun, campur dengan tanah lengket, sebagian tentu karat, dengan begitu mortir ini menyatu. Sehingga kita perlu ke hati-hatian agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan," kata dia.

Selain itu, Herry beserta tim yang bertugas belum bisa memastikan tahun pembuatan dan jenis mortir tersebut. Saat ini timnya lebih difokuskan pada upaya pencarian lebih lanjut untuk sterilisasi area.

Sejauh ini dia mengatakan belum melihat adanya indikasi jika mortir yang ditemukan tersebut adalah upaya penimbunan oleh pemilik rumah. Namun dia menduga mortir ini adalah peninggalan Perang Dunia Kedua.

"Sejauh ini masih normal, karena dulu tempat ini merupakan tanah kosong," katanya.

Pewarta : Ajat Sudrajat
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar