Wakil pemimpin oposisi Venezuela diderek dan ditahan

id Venezuela,Maduro,SEBIN,wakil Guaido

Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya Cilia Flores mengangkat tangan saat pertemuan dengan para pemuda di Karakas, Venezuela, Kamis (2/5/2019). ANTARA FOTO/Miraflores Palace/Handout via REUTERS/djo/nz

Caracas (ANTARA) - Pemimpin oposisi Venezuela, Juan Guaido, mengatakan pada Rabu bahwa badan intelijen telah menahan seorang wakilnya, penahanan pertama terhadap seorang anggota parlemen sejak Guaido menyemangati pemberontakan militer pekan lalu untuk menurunkan pemerintahan Presiden Nicolas Maduro.

Edgar Zambrano, Wakil Ketua Dewan Nasional --yang dikendalikan kelompok oposisi, badan yang dipimpin Guaido, dalam cuitan Twitter mengatakan bahwa petugas dari badan intelijen SEBIN memakai mobil derek untuk menyeret mobilnya, saat dia berada di dalamnya, menuju salah satu markas mereka di Caracas.

Pada Selasa, sidang konstituante setuju untuk melucuti kekebalan parlementer dari Zambrano dan enam anggota parlemen yang lain, agar mereka kelak dapat dituntut.

Mahkamah Agung sebelumnya menuduh para anggota parlemen bersekongkol, memberontak dan berkhianat kemudian pada Rabu menuduh tiga anggota dewan dengan pelanggaran yang sama. Pihak oposisi mengatakan bahwa Maduro menumpuk pengadilan dengan orang-orang pendukungnya dan tidak mengakui hak kekuasaannya, sementara pemerintah Amerika Serkat pada pekan ini mengancam menjatuhkan sanksi bagi seluruh anggotanya.

Suatu usaha pemberontakan pekan lalu dipimpin Guaido, yang diakui sebagai pemimpin yang tepat oleh Amerika Serikat dan sejumlah negara Barat, gagal menyingkirkan Maduro, yang menghadapi serangkaian sanksi dari Amerika Serikat melawan pemerintahnnya.

Maduro mencela aksi tersebut sebagai usaha kudeta.

"Salah satu tokoh penting kudeta baru saja ditangkap," kata Diosdado Cabello, ketua Sidang Konstituante dalam komentarnya yang ditayangkan televisi pemerintah.

"Mereka harus mempertanggungjawabkannya di pengadilan atas kudeta gagal yang mereka coba lakukan," katanya.

Zambrano mengatakan melalui Twitter bahwa petugas SEBIN mengepung mobilnya di markas partai Aksi Demokratik di distrik La Florida, Caracas.

"Kami dikejutkan oleh SEBIN, setelah tidak membiarkan kami keluar dari mobil, mereka memakai truk derek untuk mengankut kami langsung ke Helicoide," katanya.
Belum jelas apakah Zambran sudah ada di Helicoide (gedung penjara di Caracas).

"Rejim telah menculik wakil presiden," cuit Guaido di Twitter.

Guaido pada Januari meminta konsitutsi untuk menerima suatu kepresidenan sementara, mengakhiri legitimasi Maduro setelah dia memastikan terpilih kembali tahun lalu dalam pemungutan suara yang secara luas dianggap curang.

Maduro mengawasi kemerosotan ekonomi Venezuela yang mengalami kemunduran setengahnya dan menyebabkan sekitar tiga juta penduduk Venezuela bermigrasi.

Dewan Konstituen mencabut kekebalan parlementer Guaido pada awal April namun pihak berwenang belum menahan dia dan sejak itu Maduro mengatakan dia akan "menghadapi penghakiman." Pemerintahan Presiden AS Trump mengancam pemerintahan Maduro tanggapan keras apabila Guaido ditahan.

Sebelumnya pada Rabu, ketua Mahkamah Agung, Maikel Moreno menampik ancaman pemerintah AS untuk memberi sanksi apabila anggota pengadilan yang tidak menolak pemerintahan Maduro dan Guaido.

Wakil Presiden AS Mike Pence pada Selasa mengatakan bahwa pemerintahan Trump akan segera memberikan sanksi pada 25 anggota pengadilan yang ada. Pence mengatakan, AS akan mencabut sanksi ekonomi pada bekas jenderal Venezuela yang berbalik menentang Maduro ketimbang mendorong sekutu Maduro yang lain untuk mengikuti aturan.

Kepala Organisasi Negara-negara Amerika (OAS), Luis Almagro mengatakan : "Kami ingin SEBIN menghentikan intimidasi, menghormati kekebalan anggota parlemen, dan segera membebaskan Edgar Zambrano."

Sumber: Reuters

Baca juga: AS cabut sanksi atas jenderal Venezuela
Baca juga: Harga minyak naik di Asia dipicu sanksi AS terhadap Iran dan Venezuela
Baca juga: Maduro tampil bersama menteri pertahanan setelah upaya kudeta


 

Pewarta : Maria D Andriana
Editor: Chaidar Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar