Sudan tahan sembilan prajurit pascapengunjuk rasa tewas

id sudan,perang saudara,perang sipil,RSF,pasukan kebebasan dan perubahan,pasukan dukungan cepat

Wakil Ketua Dewan Militer Transisi Sudan Mohamed Hamdan Dagalo, mediator asal Ethiopia Mahmoud Dirir dan utusan uni Afrika untuk Sudan Mohamed Al-Hacen Lebatt berfoto bersama setelah menandatangani kesepakatan politik sebagai bagian dari kesepakatan berbagi kekuasaan yang bertujuan untuk memimpin negeri ke demokrasi menyusul tiga dekade kekuasaan autokrasi di Khartoum, Sudan, Rabu (17/7/2019). REUTERS/Stringer/ama/cfo (REUTERS/STRINGER)

Kairo (ANTARA) - Sembilan prajurit dari Pasukan Dukungan Cepat (RSF) telah diberhentikan dan ditahan sehubungan dengan pengunjuk rasa yang tewas baru-baru ini, ujar juru bicara Dewan Militer Sudan pada Jumat (2/8).

Letnan Jenderal Shams El Din Kabbashi mengatakan gubernur negara bagian Kordofan Utara dan dewan keamanannya akan diminta pertanggungjawaban atas pembunuhan enam orang termasuk empat anak sekolah di ibu kota negara bagian El-Obeid pada Senin.

Ratusan ribu orang turun ke jalan pada Kamis untuk menanggapi pembunuhan di ibu kota negara bagian El-Obeid.

Tindakan represif pasukan keamanan menyebabkan empat pengunjuk rasa tewas dan sebagian besar lainnya mengalami luka tembakan di wilayah Omdurman, menurut laporan petugas medis oposisi.

Kabbashi mengatakan pihak berwenang mengejar oknum tentara yang diduga terlibat dalam pembunuhan di Omdurman.

Pernyataannya itu disampaikan pada konferensi pers setelah malam negosiasi dengan kelompok-kelompok oposisi mengenai deklarasi konstitusional, sebuah dokumen yang akan membuka jalan bagi pemerintahan transisi.

Kedua belah pihak telah menandatangani kesepakatan politik pada Juli yang menetapkan periode transisi selama tiga tahun dan dewan kedaulatan bersama.

Meskipun demikian, pembicaraan mengenai deklarasi konstitusional dipertanyakan awal pekan ini akibat kekerasan yang terjadi baru-baru ini.

"Kesepakatan terhadap perjanjian itu diperkirakan akan rampung dalam waktu dekat ini," ujar Satea al-Hajj dari Pasukan bagi Kebebasan dan Perubahan (FFC).

Mediator Uni Afrika untuk Sudan Mohamed Hassan Lebatt mengatakan perundingan akan dilanjutkan pada Jumat malam.

Sementara itu, Kelompok-kelompok oposisi menuduh RSF, yang dipimpin oleh wakil kepala Dewan Militer Transisi Sudan, membunuh puluhan pengunjuk rasa yang menuntut kembalinya pemerintahan sipil sejak Presiden Omar al-Bashir digulingkan pada April.

Komandan RSF, Jenderal Mohamed Hamdan Dagalo, yang dikenal sebagai Hemedti, sebelumnya telah membantah klaim ini dan menyalahkan "penyusup".

Selain itu, Koalisi oposisi utama, FFC, menyambut baik penindakan terhadap anggota RSF, untuk mencegah meluasnya kekerasan.

Baca juga: Sudan serukan dukungan internasional bagi penyelesaian politik

Baca juga: Dewan Militer Sudan, koalisi oposisi capai kesepakatan politik

Baca juga: Sudan ingin menjadikan Indonesia sebagai model

Pewarta : Azis Kurmala
Editor: Gusti Nur Cahya Aryani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar