Rapat Pleno PBNU tanpa nasihat dari 'Mbah Moen'

id Pleno PBNU,Mbah Moen, Marsudi Syuhud

Marsudi Suhud (ANTARA/Reno Esnir)

Jakarta (ANTARA) - Sudah menjadi tradisi setiap akan menggelar Rapat Pleno Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bersilaturahmi ke KH Maimun Zubai atau 'Mbah Moen' meminta nasihat dan masukannya, tapi kali ini rencana tersebut tidak terwujud karena ulama kharismatik tersebut telah berpulang ke rahmatullah.

"PBNU mau ngadain rapat pleno tanggal 20 Agustus ini sebelum rapat mau 'sowan' dulu menyampaikan ke beliau (Mbah Moen), mau silaturahmi, tapi Almarhum duluan dipanggil Allah," kata Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Marsudi Syuhud saat dihubungi di Jakarta, Rabu.

Marsudi mengatakan rencananya untuk sowan ke Mbah Moen disampaikan saat kumpul pengurus membahas persiapan rapat pleno di Kantor PBNU, Senin (5/8) malam.

Dan Marsudi punya firasat ingin segera menemui Mbah Moen di Makkah, dan silaturahmi setelah pelaksanaan haji di Pondok Pesantren asuhannya, tapi rencana tinggal rencana karena Mbah Moen lebih dulu dipanggil yang Maha Kuasa, Selasa (6/8) waktu Mekkah.

Baca juga: Tiga surat "sakti" mungkinkan Mbah Moen dimakamkan di Ma'la

Baca juga: Jamaah haji Batam laksanakan Qulhu Tahlil doakan Mbah Moen

Baca juga: Pesan Mbah Moen untuk MUI dan PPP


Marsudi menyebutkan, tradisi sowan atau silaturahmi sebelum kegiatan besar PBNU ini dalam rangka meminta masukan dan nasihat Almarhum Mbah Moen agar kegiatan berjalan dengan baik.

"Rapat Pleno tahun ini mau memutuskan muktamar kapan dan di mana, sebelum rapat biasanya sowan dulu menyampaikan kepada Mbah Moen," katanya.

Biasanya lanjut Marsudi, setiap kali silaturahmi pengurus akan menyampaikan apa-apa saja yang akan dilaksanakan di rapat, atau perihal muktamar nanti di mana, akan membahas apa saja, bahkan pengurus membawa draf yang akan dibahas dalam kegiatan PBNU tersebut.

Para pengurus akan mendengar masukan-masukan dan nasehat dari Mbah Moen. Seperti pada silaturahmi sebelum Munas Banjar, Jawa Barat, digelar, pengurus menyampaikan materi yang akan disampaikan dalam kegiatan tersebut membahas tentang kebangsaan dan wathoniyah, tentang kesetaraan berbangsa umat Muslim dan non muslim.

"Respon Mbah Moen, langsung mengiyakan, lalu beliau carikan sumber referensinya dari ini itu, lalu mengatakan kalau dulu Rasulullah juga begitu, beliau kasih nasehat itu ya kayak kitab berjalan," kata Marsudi yang juga salah satu Ketua MUI Pusat ini.

Marsudi mengatakan kegiatan Rapat Pleno untuk membahas jadwal muktabar tetap akan dilaksanakan meski rencana sowan memintas nasehat dari Mbah Moen tidak terlaksana karena takdir Allah berkehendak lain.

Ia mengatakan, selain ilmu dan nasehatnya yang banyak didengarkan pala ulama dan kyai. Mbah Moen juga dianggap sebagai sesepuh yang doanya diyakini makbul bagi mereka yang menghormatinya.

Mbah Moen dikenal sebagai ahli fiqih Islam yang peduli dengan politik kebangsaan. Pemipin Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah.

Almarhum juga dikenal sebagai Mustasyar PBNU, juga menjabat Ketua Majelis Syariah di DPP PPP. Wafat Selasa, di Mekkah, Arab Saudi, pada pukul 04.17 waktu setempat.

Berdasarkan informasi dari situs resmi NU, Rapat Pleno 2019 akan laksanakan di Pondok Pesantren Al-Muhajirin, Purwakarta, Jawa Barat.

Rapat Pleno tersebut akan membahas segala hal terkait muktamar seperti tema, waktu dan tempat serta hal-hal lain baik internal maupun eksternal.
 

Pewarta : Laily Rahmawaty
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar