Jakarta (ANTARA) - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan proses evakuasi korban runtuhnya bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny di Buduran, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, telah memasuki tahap akhir dan masih ada 10 korban lagi.
Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB, Budi Irawan dalam keterangan di Jakarta, Senin, mengatakan bahwa pembersihan sisa puing bangunan dilakukan secara intensif dengan bantuan alat berat, seperti breaker excavator dan bucket excavator yang digunakan bergantian.
“Hari ini kita harapkan akan selesai pembersihan dan evakuasi,” ujarnya kepada pewarta dari posko tanggap darurat di Sidoarjo itu.
Berdasarkan hasil kaji cepat di lapangan, diperkirakan masih ada sekitar 10 korban yang tertimbun reruntuhan dan hingga kini masih dalam proses pencarian. Jumlah tersebut sesuai dengan daftar nama orang hilang yang dirilis pihak pesantren.
Data BNPB per Senin pukul 14.45 WIB mencatat jumlah korban meninggal dunia mencapai 53 orang, sementara enam korban masih dalam perawatan medis. Sebanyak 97 orang telah selesai menjalani perawatan, termasuk satu korban yang tidak memerlukan penanganan lanjutan.
Selain itu, tim SAR gabungan menemukan lima potongan tubuh yang kini masih dalam tahap identifikasi oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Timur di Rumah Sakit Bhayangkara, Surabaya.
Budi menegaskan insiden runtuhnya bangunan empat lantai ini menjadi bencana dengan jumlah korban meninggal dunia terbanyak sepanjang Januari hingga Oktober 2025.
Ia berharap kejadian ini dapat menjadi pelajaran bersama mengenai pentingnya perencanaan pembangunan, pengawasan, serta kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana serupa di masa mendatang.
Polisi terima 55 kantong jenazah korban...
Tim Disaster Victim Identification (DVI) Kepolisian Daerah Jawa Timur (Polda Jatim) mencatat telah menerima total 55 kantong jenazah korban ambruknya Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Sidoarjo, hingga Senin pagi.
“Pada pagi hari ini sampai saat ini total kami menerima 55 kantong jenazah, dari awal sampai sekarang. Dari jumlah itu, lima berupa body part,” kata Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Kabid Dokkes) Polda Jatim Kombes Pol. M Khusnan di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya, Senin.
Ia menjelaskan dari total tersebut, lima jenazah telah teridentifikasi di Sidoarjo dan lima lainnya di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya, sehingga total 10 jenazah sudah teridentifikasi.
“Proses identifikasi masih terus berjalan. Sampel DNA keluarga telah kami kirim pada Sabtu pagi (4/10),” ujarnya.
Khusnan menambahkan proses pencocokan DNA dilakukan di Laboratorium DNA Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Polri, Jakarta.
Ia berharap hasil dapat diterima lebih cepat dari waktu normal lima hari.
“Kami sudah berkomunikasi dengan tim Laboratorium DNA Pusdokkes Polri. Prosesnya tidak bisa dipercepat secara manual karena bergantung pada mesin, tapi kami harap bisa lebih cepat,” katanya.
Ia menegaskan tim DVI tetap menggunakan metode identifikasi ganda dengan data primer seperti DNA dan gigi, serta data sekunder berupa ciri fisik dan barang pribadi korban.
“Baik data antemortem maupun postmortem kami cocokkan untuk mendapatkan hasil yang paling akurat,” ujarnya menegaskan.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: BNPB: Tahap akhir evakuasi ponpes Al Khoziny, 10 korban lagi