Batam (ANTARA) - Puasa Ramadhan selama satu bulan menjadi kesempatan positif bagi setiap orang yang menjalankan untuk meregulasi emosi, kata psikiater yang juga dosen Fakultas Kedokteran Universitas Internasional Batam dr Revit Jayanti S, Sp.K.

“Kenapa Bulan Ramadhan itu terasa menenangkan, karena Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah dan makna bagi umat Muslim di seluruh dunia,” katanya di Batam, Provinsi Kepulauan Riau, Minggu.

Ia menjelaskan esensi Ramadhan bukan sekedar waktu untuk menahan lapar dan dahaga, tetapi juga kesempatan memperdalam ibadah, meningkatkan kualitas diri, serta meraih berbagai keutamaan yang telah ditetapkan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Secara neurologi, kata dia, saat berpuasa, tubuh mengalami beberapa perubahan, yakni gula darah menurun ketika tidak makan beberapa jam, dengan efek mudah lelah dan sensitif secara emosi.

Selain itu, kortisal (hormon stres) bisa meningkat di awal karena perubahan pola tidur dan makan, serta proses autophagy (pembersih sel).

“Puasa membantu proses 'pembersihan' sel, termasuk otak,” ujarnya.

Pembersihan ini, katanya, mendukung perlindungan dan perbaikan sel saraf serta dapat meningkat brain-derived neurothrophic factor (BDNF) yang berperan dalam fungsi kognitif dan regulasi emosi.

Akan tetapi, katanya, kebanyakan terjadi saat Ramadhan, penjualan makanan meningkat. Banyak berdiri pasar Ramadhan menjual aneka takjil sehingga saat puasa masyarakat menjadi konsumtif.

Padahal, ujarnya, jika melihat esensi puasa sebagai menahan lapar dan haus seharusnya perilaku konsumtif tidak terjadi.

“Mungkin diawal-awal Ramadhan tubuh kita merasakan lemah, letih, dan mudah capek, karena perubahan tadi. Tapi tubuh ini memiliki kemampuan beradaptasi. Setelah lewat tiga hari itu, pasti sudah 'enjoy' menjalaninya,” kata Revit yang dosen perguruan tinggi swasta di Kota Batam itu.

Ia menjelaskan Ramadhan sebagai pengendalian diri tidak makan dan minum, menahan amarah, ucapan yang menyakiti, dan dorongan reaktif.

“Impulsif belanja takjil, persiapan Lebaran itu termasuk dorongan reaktif,” ujarnya.

Terkait dengan emosi, katanya, sebagai respons alami tubuh dan pikiran terhadap suatu peristiwa.

Ia mengatakan emosi sebagai hal wajar, tetapi tidak dinormalisasi dengan membiarkan emosi meledak-ledak hingga melukai diri sendiri dan orang lain sehingga perlu meregulasi.

“Hubungan antara puasa dan emosi yakni melatih pengendalian diri, meningkatkan kesadaran emosi, membentuk kesabaran dan empati,” katanya.

Dia menjelaskan bahwa meregulasi emosi sebagai kemampuan seseorang mengenal, memahami, dan mengelola emosi agar tetap terkendali serta diekspresikan secara sehat dan tepat.

“Meregulasi emosi bukan berarti menahan atau menekan perasaan. Tetapi menyadari apa yang sedang dirasakan, memahami penyebabnya, mengontrol respons agar tidak berlebih dan mengekspresikan emosi dengan cara yang tepat,” ujarnya.

Ia mengatakan tips meregulasi emosi, pertama mengenali dan menerima emosi dengan cara memperhatikan dan menerima emosi yang dirasakan, lalu menarik napas dalam, mengambil perlahan lalu menembuskan, atau bisa menggunakan metode 4x4x4 (empat detik tarik nafas, empat detik tahan, dan embuskan dalam 4 detik).

“Sadari bahwa lelah itu bukan dosa. Atur energi bukan hanya waktu, tidur yang cukup, dan sahur yang berprotein,” katanya.

Selain itu, katanya, meregulasi emosi bisa juga melalui berbicara dengan teman. Untuk tips ini, diperlukan teman yang bisa dipercaya dan tidak menceritakan ke sembarang orang.

Selain itu, olahraga dan relaksasi juga penting dengan melakukan kegiatan yang menenangkan, mengekspresikan diri dengan cara tidur cukup, makan teratur, dan relaksasi.

“Dan berpikir realistis, ganti pikiran negatif menjadi realistis. Misalnya, selama puasa mau istirahat saja tidak kerja, lalu terima gaji THR. Apa bisa begitu? ini kan enggak realistis namanya,” kata Revit.