Logo Header Antaranews Kepri

Atap Baru Untuk Sekolah Rico

Kamis, 22 Juli 2010 18:33 WIB
Image Print
Kepala Sekolah Dasar Melati, Mona (kanan) berbincang dengan anggota DPRD Kota Batam Udin Parsaoran Sihaloho (kiri) yang membantu perbaikan dan pengadaan atap ruang sekolahnya, Kamis (22/7). (Foto kepri.antaranews.com/Slamet Widodo/*Btm1)

Hujan mengguyur Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau, tak menyurutkan langkah kaki telanjang seorang anak menuju sekolah di permukiman tanpa izin resmi di sekitar kompleks perumahan menengah-atas, Orchid Park, Batam Kota.

Saat memasuki halaman sekolah, Kamis 22 Juli 2010 pagi, wajah bocah itu sumringah melihat sekolahnya sudah beratapkan seng, padahal dari dulu hanya dilapisi getah hitam pekat dan sudah koyak-koyak.

"Wah, atap kelasku udah berganti," kata Rico (11) dengan riang.

Itulah gambaran SD Melati yang berdiri tepat di kawasan rumah liar, di dekat perumahan normal, di tengah gemerlapnya kota metropolitan Batam.

Rico, murid kelas V, merasa bahagia sebab ruang kelas kini terang.

Biasanya bersama siswa yang lain, ia harus ekstra konsentrasi dikarenakan jarak pandang di kelas terbatas lantaran cahaya alami dari luar muram.

Rico bukan anak biasa. Selain menuntut ilmu, setiap hari ia membanting tulang berjualan koran di Simpang Rosedale, Batam Kota, kurang lebih satu kilometer dari sekolahnya.

Kegiatan itu harus ia lakukan untuk menambah pendapatan keluarga semenjak ayah kandungnya meninggal dunia beberapa tahun lalu.

"Saya berjualan koran usai sekolah," katanya, polos.

Bukan hanya Rico. Hampir seluruh siswa di SD Melati ini berasal dari kalangan miskin.

Kebanyakan dari mereka harus menyambung hidup seusai bersekolah dengan berjualan koran, menjadi tukang semir sepatu maupun pemulung.

"Betul, rata-rata siswa di sini bekerja sebagai penjual koran hingga pemulung," ujar Mona, Kepala Sekolah Dadar Melati.

Sekolah yang didirikannya sejak enam tahun lalu, dikhususkan untuk memberi kesempatan bagi anak-anak jalanan maupun yang berasal dari keluarga kurang mampu agar sebagai putra-putri bangsa tetap mendapat pendidikan formal.

Mona dibantu tiga orang pendidik untuk siswa kelas I hingga kelas V.

Pelajar kelas I hingga kelas V masing-masing menempati ruang kelas yang berukuran 2,5 meter kali 3 meter dengan alas berlantai semen.

Materi pendidikan untuk merekat, menurut Mona, mengikuti standar kurikulum Dinas Pendidikan Kota Batam.

Dimana letak ruang kelas VI? Mona menjawab, tidak memiliki ruangan untuk kelas VI.

Dia menyebut, seluruh siswa yang berhasil naik kelas VI diwajibkan untuk pindah ke sekolah swasta lainnya.

"Sekolah ini belum berizin. Maka, kami tidak diperbolehkan untuk menggelar ujian bagi siswa kelas VI, sehingga kami sarankan mereka untuk pindah," kata Mona.

Mona mengatakan pada tahun lalu tujuh siswa SD Melati pindah ke sekolah lain guna menempuh kelas VI.

"Semua berhasil lulus," kata Mona. Bahkan, ada di antara mereka meraih nilai kelulusan di atas rata-rata.

Dia merasa sangat bangga. Namun, di balik itu juga menyimpan sebuah kegusaran.

Ia berkeinginan agar sekolah yang dikelolanya mendapat izin resmi dari pemerintah.

Alasan tidak adanya izin yang dimiliki SD Melati, menurut Mona lebih dikarenakan keberadaan sekolah tersebut yang berdiri di atas lahan hunian liar.

Pada sisi lain, dia sempat bingung menghadapi kondisi sekolahnya yang mengalami kerusakan di bagian atap.

"Dari mana kami bisa mendapatkan uang untuk renovasi," katanya.

Pembiayaan operasional sekolahnya selama ini hanya mengandalkan uang dari hasil pembayaran 53 siswa yang masing-masing dikenai Rp50 ribu setiap bulan.

Uang hasil iuran siswa itu juga dia gunakan untuk menggaji tiga orang guru dengan gaji bervariasi antara Rp300 ribu hingga Rp500 ribu, tergantung dari iuran yang masuk.


Datang jawaban

Satu kegusaran Mona terjawab saat seorang anggota DPRD Kota Batam mengulurkan tangan untuk merenovasi atap sekolah itu.

Udin Parsaoran Sihaloho, wakil rakyat dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, terketuk hati saat melihat kondisi atap sekolah yang sudah bocor di beberapa bagian.

Dia membantu biaya penggantian atap tempat pendidikan bagi anak-anak miskin itu.

Udin, biasa lelaki itu dipanggil, menyatakan ingin membuat dunia pendidikan Batam terbuka bagi semua kalangan.

Dia mengaku saat pertama kali menginjakkan kaki di Batam pernah mengalami kehidupan seperti yang dialami oleh siswa SD Melati.

"Saya pernah mengalami kehidupan seperti para siswa itu," katanya dengan mata menerawang.

Di mata Udin, semua warga negara berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Dalam kesempatan itu, Udin juga mengangkat lima siswa di SD Melati untuk dijadikan anak angkat.

Pendidikan, menurut Udin, menjadi satu kunci yang sangat menentukan untuk kemajuan sebuah bangsa.

Dia berharap keberadaan SD Melati ini dapat membuka mata para pemangku kebijakan di kota industri itu agar lebih peka terhadap dunia pendidikan.

Udin menilai para guru yang berkiprah di SD Melati ini merupakan orang-orang yang peduli
terhadap pendidikan di Kota Batam.

"Mereka seharusnya layak mendapatkan insentif dari dinas pendidikan," katanya.

Dia menyarankan para guru SD Melati segera membentuk yayasan untuk lebih memudahkan pengelolaan sekolah sekaligus mendapatkan izin penyelenggara pendidikan dari pemerintah.

Udin berharap langkah kecil yang dia lakukan dapat mengubah paradigma masyarakat miskin dilarang sekolah; menjadi, memiliki kesempatan mengenyam pendidikan yang layak.*** (Btm1)



Pewarta :
Editor: Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2026