Logo Header Antaranews Kepri

Ikan Mulai Langka Karena Nelayan Takut Melaut

Rabu, 29 September 2010 17:00 WIB
Image Print

Tanjungpinang (ANTARA News) - Pedagang di Pasar Baru Tanjungpinang menyatakan berbagai jenis ikan mengalami kelangkaan karena cuaca yang buruk membuat sebagian nelayan takut melaut.

Ahua, 39 tahun, pedagang ikan di Pasar Baru Tanjungpinang, Rabu 29 September 2010, mengatakan, jumlah ikan yang dijualnya saat ini hanya sedikit dibanding satu bulan sebelumnya.

"Harga ikan segar mengalami kenaikan karena langka," ujarnya sambil melayani pelanggannya.

Sejumlah nelayan, yang biasanya menjual hasil tangkapan ikan kepadanya, tidak berani melaut karena gelombang yang terlalu tinggi.

Nelayan tradisional Tanjungpinang menggunakan perahu berukuran 5 meter untuk menjaring ikan, sehingga tidak mampu melawan gelombang.

Kondisi itu membuat ikan yang dijual di pasar mengalami kelangkaan. Jenis ikan yang dijual di pasar juga terbatas, tidak seperti pada saat gelombang laut rendah.

"Rekan saya yang biasa menjaring ikan di belakang Pulau Penyengat (Tanjungpinang) baru-baru ini tenggelam karena perahunya digulung gelombang laut, namun dia dapat diselamatkan," ungkap Ahua..

Hal senada disampaikan Akim, 42 tahun, yang mengeluhkan menurunnya tingkat permintaan karena konsumen menilai harga ikan terlalu mahal, padahal keuntungan yang diperoleh pedagang hanya Rp1.000-Rp2.000 per kg.

Pedagang juga sering mengalami kerugian karena ikan yang dijualnya busuk. Pedagang terpaksa menjual ikan yang sudah didinginkan selama sehari atau dua hari dengan harga yang murah, bahkan lebih murah dibanding harga yang ditetapkan nelayan.

"Kondisi seperti ini biasanya bertahan dua hingga tiga bulan," ujar Akim yang telah belasan tahun jualan ikan di Pasar Baru Tanjungpinang.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kota Tanjungpinang/Kabupaten Bintan, Sulimin, menyatakan, perubahan musim menyebabkan cuaca memburuk.

Perubahan cuaca yang ekstrim karena dipengaruhi aktivitas panas di perairan Tanjungpinang, yang menyebabkan terjadinya penguapan. Penguapan tersebut menimbulkan kumpulan awan tebal yang dikenal comolonimbus.

Awan cumulonimbus muncul secara tiba-tiba. Aktivitas air dan udara yang bergejolak di dalam awan menyebabkan terjadinya gelombang laut yang tinggi, angin puting beliung, petir dan hujan.

Ia mengimbau masyarakat Tanjungpinang, terutama nelayan dan berbagai aktivitas perkapalan di perairan mewaspadai perubahan cuaca yang ekstrim, sebagaimana yang terjadi pada saat ini.

"Aktivitas awan cumulonimbus membahayakan keselamatan masyarakat, karena itu perlu diawaspadai," katanya. (ANT-NP/Btm1)



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026