Logo Header Antaranews Kepri

Pemprov Kepri Harap PI Migas 10 Persen

Selasa, 7 Juni 2011 18:57 WIB
Image Print

Bintan (ANTARA News) - Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau berharap mendapatkan bagian dalam proyek pemboran gas di Natuna dalam bentuk participating interest sebesar 10 persen.

"Kami sudah meminta ke pemerintah pusat berulang kali untuk mendapatkan PI 10 persen," kata Kepala Dinas Pertambangan Kepri, Isdianto, di Bintan, Selasa.

Ia mengatakan, PI 10 persen amat dibutuhkan untuk daerah, sebagai pemasukan dari minyak dan gas bumi selain pembagian bagi hasil.

Untuk menjalankan PI 10 persen, kata dia, Pemprov Kepri akan menggandeng mitra, baik dari swasta maupun BUMD.

Kepala Bagian Humas dan Hubungan Badan Pengatur Hulu Migas, Elan Biantoro, mengatakan, pemerintah memberikan kesempatan kepada pemerintah daerah untuk memiliki bagian dalam pengelolaan minyak dan gas bumi yang berada di daerah masing-masing.

Namun, kata dia, bagian itu harus dimulai sejak awal, termasuk menanamkan modalnya terlebih dulu, sebelum menikmati keuntungan dari produksi migas.

"Itu harus dihitung cermat, karena jangka waktu pengembalian modalnya tidak cepat," kata dia.

Sebelum mendapatkan keuntungan, Pemda, melalui BUMD-nya harus menanamkan modal, sesuai investasi KKKS untuk keperluan eksplorasi.

Setiap tahun, Pemda harus mengalokasikan anggaran penyertaan modal sebesar 10 persen dari dana yang dibutuhkan, hingga produksi bisa untung dan dibagi, kata dia.

Dan, waktu yang dibutuhkan hingga hasil produksi migas bisa dibagikan sekitar dua hingga 20 tahun.

Di tempat yang sama, Kepala Perwakilan BP Migas Sumatera bagian Utara, Baris Sitorus, mengatakan, PI hanya dapat dilakukan kepada kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) yang baru atau perpanjangan KKKS.

Di Kepri, kata dia, kebanyakan KKKS sudah tandatangan kontrak, dan masa habisnya masih sekitar 16 tahun lagi.

"Kesempatan paling baik adalah di Blok Alpha D Natuna," kata dia.

Menurut dia, Blok D Alpha sangat menjanjikan karena memiliki cadangan gas yang tinggi, meski sampai saat ini belum dikerjakan karena terkendala kandungan CO2 yang tinggi.(ANT-YJN/M012/Btm2)



Pewarta :
Editor: Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2026