
Pengusaha Bantah Manfaatkan Kelangkaan Telur

Batam (ANTARA News) - Pengusaha Batam membantah memanfaatkan kelangkaan telur demi mendapatkan proyek impor dari pemerintah.
"Pengusaha justru ingin membantu pemerintah memasok kebutuhan dengan harga yang terjangkau bagi masyarakat," kata Ketua Kamar Dagang dan Industri Daerah Kota Batam Nada Faza Soraya di sela-sela pertemuan yang membahas perdagangan internasional di Batam, Selasa.
Ia mengatakan, impor telur tidak hanya menguntungkan untuk pengusaha, melainkan juga masyarakat karena harganya murah.
Impor telur sudah sangat mendesak di Batam mengingat harga telur dalam negeri kian melambung dan meningkatnya kebutuhan masyarakat menjelang Ramadhan.
Saat ini, harga telur mencapai Rp1.300 per butir meningkat dari harga normal Rp900 per butir.
Menurut Nada, impor telur tidak akan mematikan produksi dalam negeri karena sifatnya sementara.
"Impor nanti ada kuotanya, jadi tidak selama-lamanya dan mematikan industri dalam negeri," kata dia.
Impor telur dibutuhkan hingga pasokan dalam negeri lancar dan harga kembali normal.
"Rasa nasionalisme memang harus dipelihara, tapi dari pada mati kelaparan....," kata Nada.
Sementara itu, Pemerintah Kota Batam meminta izin impor telur, daging dan beras dari negara tetangga karena harga kebutuhan terus meningkat menjelang Ramadhan.
"Kami meminta untuk mendapatkan izin impor, untuk mengantisipasi harga yang terus melonjak," kata Kepala Dinas Perdagangan, Perindustrian, Energi dan Sumber Daya Mineral Kota Batam Ahmad Hijazi.
Ia mengatakan harga kebutuhan pokok di Batam terus meningkat sejak sebulan terakhir. Bila Batam mendapatkan kekhususan impor kebutuhan pangan, maka diharapkan dapat menekan harga yang semakin melambung.
Menurut dia, meningkatnya harga disebabkan distribusi nasional yang terganggu, sehingga pasokan juga terhambat.
"Bila kami terus mengharap pasokan hanya dari Medan, akan sulit, karena harga akan terus meningkat," kata Hijazi.
Pengajuan impor, kata dia, merupakan keputusan bersama Dinas Perindag ESDM bersama Dinas Kelautan, Pertanian, Perikanan dan Kehutanan.
Surat pengajuan impor sudah diberikan kepada Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau yang akan melanjutkannya ke pemerintah pusat.
Gubernur Kepulauan Riau Muhammad Sani mendukung permintaan impor, mengingat kekhususan kota Batam yang berdekatan dengan negara tetangga dan kota konsumtif.
"Batam itu kota konsumtif, barang-barangnya didatangkan dari luar semua, bila terpaksa harus impor, kenapa tidak," kata gubernur.
Gubernur mengatakan Batam tidak memiliki hasil pertanian sehingga harus didatangkan dari kota lain di Indonesia.
Letaknya yang strategis juga menyebabkan harga barang akan lebih murah bila didatangkan dari negara tetangga dibanding kota lain di Indonesia, mengingat ongkos distribusi yang mahal.
(ANT-YJN/R007/Btm2)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
