
Batam Terancam Jadi Gudang Pipa China

Batam (ANTARA News) - Perusahaan pipa perminyakan di Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau, khawatir daerah itu akan menjadi gudang pipa impor asal China bila pemerintah tidak melakukan pengawasan terhadap importir.
"Kalau pemerintah tidak serius melarang impor pipa minyak asal China, Batam hanya akan menjadi gudang pipa perminyakan asal negara tersebut," kata pimpinan PT Citra Tubindo Tbk Agus Hidayat di Batam, Rabu.
Menurut Agus, akhir-akhir pipa perminyakan asal China leluasa masuk ke Batam padahal pemerintah melalui Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak Dan Gas Bumi (BP Migas) telah melarang impor pipa.
Agus mengatakan, saat ini kecenderungan Batam hanya menjadi tempat transit pipa asal China sebelum diekspor ke luar negeri dengan merek dalam negeri.
"Padahal itu bukan dibuat di Batam, yang berarti juga akan mematikan produsen lokal," kata dia.
Pemerintah harus benar-benar memperhatikan agar produsen lokal dan negara tidak dirugikan, tambah dia.
Sebelumnya, Direktur Industri Logam Kementerian Perindustrian Putu Surya Wiryawan di Batam mengatakan daerah itu diproyeksikan menjadi pusat logistik penunjang industri minyak dan gas di Indonesia.
Nantinya, kata dia, segala kebutuhan pipa baja pengeboran minyak lepas pantai di Indonesia terdapat di Batam.
Pemerintah akan mengatur usaha perdagangan (importir) dan industri logam terutama baja yang ada di Batam agar lebih maju, kata Wiryawan.
"Perusahaan pengimpor hanya boleh mengimpor bahan baku. Atau, kalau berbentuk pipa, harus yang setengah jadi. Proses akhirnya harus di Batam," tambah dia.
Kebijakan itu untuk melindungi dan mendorong produsen pipa baja lokal agar bisa berkembang.
"Bila semua diimpor maka, industri logam tidak akan mampu menyerap tenaga kerja yang besar. Batam hanya akan jadi gudang barang impor saja," ucap Wiryawan.
Anggota II Deputi Bidang Pelayanan Jasa, Badan Pengusahaan (BP) Batam Fitrah Kamaruddin juga berkali-kali menegaskan kalau pipa perminyakan asal China dilarang masuk Batam.
"Tujuannya jelas, untuk melindungi produsen lokal," kata Fitrah.
(ANT-L/M027/Btm1)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
