
BPS: Pertumbuhan Ekonomi Kepri Melambat

Tanjungpinang (ANTARA Kepri) - Badan Pusat Statistik menyatakan, pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepulauan Riau pada tahun 2011 melambat dibanding kondisi satu tahun sebelumnya.
Tahun 2011 perekonomian Kepulauan Riau tumbuh 6,67 persen sedangkan tahun 2010 tumbuh 7,19 persen, ujar Kepala Badan Pusat Statistik Kepulauan Riau (Kepri), Syafri Said, Senin.
Hal yang sama terjadi pada produk domestik regional bruto (PDRB) tanpa migas, laju pertumbuhan ekonomi pada tahun 2011 mengalami perlambatan pertumbuhan sebesar 6,94 persen dari tahun sebelumnya yang tumbuh sebesar 7,51 persen.
Sementara pertumbuhan tertinggi pada saat itu dihasilkan oleh sektor listrik, gas dan air bersih yang tumbuh sebesar 13,96 persen.
"PDRB dengan migas tahun 2010 sebesar 7,19, sementara tahun 2011 sebesar 6,67 persen. Sedangkan PDRB tanpa migas tahun 2010 sebesar 7,51 dan tahun 2011 sebesar 6,94 persen," ujarnya.
Pada tahun 2011, kata dia, atas dasar harga berlaku dengan migas PDRB Kepri dipeorleh nilai sebesar Rp80,242 triliun. Sedangkan untuk PDRB tanpa migas sebesar Rp75,007 triliun.
Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, nilai PDRB pada tahun 2011 terjadi peningkatan. Pada tahun 2010 nilai PDRB atas dasar harga berlaku dengan migas sebesar Rp71,614 triliun dan PDRB tanpa migas sebesar Rp66,504 triliun.
Sedangkan untuk PDRB Kepri atas dasar harga konstan 2000, pada tahun 2011 sebesar Rp43,816 triliun dan untuk PDRB tanpa migas sebesar Rp42,079 triliun.
"Bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya jumlah PDRB pada tahun 2011 juga terjadi peningkatan. Pada tahun 2010 nilai PDRB atas dasar harga konstan 2000 sebesar Rp41,075 triliun dan PDRB tanpa migas sebesar Rp39,349 triliun," ujarnya.
Menurut dia, kinerja perekonomian Kepri pada triwulan IV tahun 2011 bila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, yang digambarkan oleh PDRB atas dasar harga konstan, mengalami pertumbuhan 2,04 persen. Sektor ekonomi yang mengalami pertumbuhan tertinggi pada triwulan IV 2011 ini adalah sektor keuangan, perumahan dan jasa perusahaan sebesar 3,24 persen, disusul sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 3,17 persen, sektor listrik, gas dan air bersih sebesar 2,26 persen, sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 2,24 persen, sektor industri pengolahan sebesar 1,70 persen, sektor konstruksi sebesar 1,55 persen, sektor jasa-jasa sebesar 1,47 persen, sektor pertambangan dan penggalian sebesar 1,32 persen dan sektor pertanian sebesar 0,09 persen.
PDRB triwulan IV tahun 2011 dibandingkan dengan triwulan IV tahun 2010 semua sektor mengalami pertumbuhan positif. PDRB total meningkat sebesar 6,34 persen.
Tiga sektor yang mengalami pertumbuhan 2 digit. Sektor listrik, gas dan air bersih mengalami peningkatan terbesar yaitu sebesar 11,23 persen, sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 10,26 persen dan sektor konstruksi yang tumbuh 10,13 persen. PDRB kumulatif triwulan IV tahun 2011 dibandingkan kumulatif triwulan IV tahun 2010 mengalami pertumbuhan sebesar 6,67 persen.
PDRB tanpa migas secara berantai triwulan IV 2011 dibandingkan triwulan III 2011 tumbuh sebesar 2,08 persen.
"Sedangkan triwulan IV 2011 dibanding triwulan yang sama tahun sebelumnya tumbuh sebesar 6,49 persen, jadi sampai triwulan IV 2011 pertumbuhan PDRB tanpa migas lebih cepat dibanding PDRB dengan migas," ungkapnya.
Pada triwulan III tahun 2011 PDRB atas dasar harga berlaku mencapai Rp20,453 triliun, kemudian pada triwulan IV 2011 meningkat menjadi Rp21,284 triliun. Atas harga konstan 2000, PDRB triwulan III tahun 2011 adalah sebesar Rp11,019 triliun, kemudian pada triwulan IV tahun 2011 meningkat menjadi Rp11,244 triliun.
Atas dasar harga berlaku, sektor ekonomi yang menunjukkan nilai tambah bruto yang terbesar pada triwulan IV tahun 2011 adalah sektor industri pengolahan sebesar Rp 10,198 triliun, kemudian sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar Rp4,184 trilun, disusul oleh sektor konstruksi sebesar Rp1,648 trilun dan sektor pertambangan dan penggalian Rp1,589 triliun.
"Sektor ekonomi lainnya masing-masing menghasilkan nilai tambah bruto dibawah 1 triliun rupiah. Pada perhitungan atas dasar harga konstan 2000, ketiga sektor itu, memberikan nilai tambah bruto berturut-turut sektor industri pengolahan sebesar Rp5,671 triliun, sektor perdagangan, hotel dan restoran Rp2,628 triliun," ujarnya.
Untuk PDRB pada tahun 2011, sektor ekonomi yang paling berperan adalah sektor industri pengolahan yaitu sebesar 47,78 persen, diikuti sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 19,40 persen serta sektor konstruksi sebesar 7,79 persen. Dan secara keseluruhan ketiga sektor tersebut mempunyai andil peranan sebesar 74,98 persen dalam struktur PDRB.
(KR-NP/B012)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
