
50 Persen Warga Pesisir Batam Gunakan Elpiji

Batam (ANTARA Kepri) - Jumlah rumah tangga pengguna elpiji di pesisir Batam, baru mencapai sekitar 50 persen, kata Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Energi Sumber Daya Mineral Kota Batam, Ahmad Hijazi.
"Walaupun secara umum program konversi minyak tanah ke gas elpiji di Kota Batam termasuk paling sukses, namun di pesisir baru sekitar 50 persen yang ikut program konversi," kata dia di Batam, Kepulauan Riau, Kamis.
Kurangnya informasi mengenai kemudahan menggunakan elpiji membuat sebagian masyarakat pesisir masih takut menggunakan bahan bakar tersebut saat memasak.
"Sebagian masih tetap menggunakan minyak tanah walaupun di Batam sejak dua tahun terakhir sudah tidak ada minyak tanah bersubsidi," kata Dia.
Wali Kota Batam, Ahmad Dahlan mengatakan sejak program konversi minyak tanah ke gas di berlakukan pada 2010 lalu jumlah rumah tangga pengguna elpiji mencapai sekitar 90 persen.
"Selama dua tahun terakhir jumlah rumah tangga pengguna elpiji mencapai hampir 90 persen," kata Dahlan.
Angka tersebut, kata dia, jauh lebih tinggi bila dibanding daerah-daerah lain terutama di Kepulauan Riau (Kepri).
"Bila dibanding daerah-daerah lain, Batam salah satu yang paling sukses menerapkan program ini," kata wali kota.
Ia mengatakan, awalnya kebanyakan rumah tangga di Batam enggan menggunakan elpiji ukuran tiga kilogram dari program konversi pemerintah dengan berbagai alasan.
"Kebocoran yang bisa mengakibatkan ledakan dan kebakaran alasan utama mereka. Namun lama-lama mereka terbiasa dan merasakan aman," kata dia.
Selain pengguna elpiji ukuran tiga kilogram, sebagian masyarakat menggunakan gas elpiji eks Singapura yang ukurannya hampir setara gas elpiji Pertamina ukuran 12 kilogram.
Sebagian lagi menggunakan gas dari PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk area Batam yang disalurkan menggunakan pipa langsung ke rumah warga.
(KR-LNO/S006)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
