
FPP: Pesantren Harus Mampu Lawan Radikalisme

Tanjungpinang (ANTARA Kepri) - Forum Pemberdayaan Pesantren Provinsi Kepulauan Riau, menyatakan, pesantren harus mampu melawan paham radikal yang berpotensi masuk ke berbagai lembaga pendidikan.
"Citra positif pondok pesantren perlu digaungkan kembali dengan melawan paham radikal. Pondok pesantren harus melahirkan generasi yang cerdas dan bertaqwa," kata Ketua Forum Pemberdayaan Pesantren Kepulauan Riau (FPP Kepri), Rizaldy Siregar, di Tanjungpinang, Kamis.
Rizaldy mengemukakan, pesantren merupakan salah satu pilar dalam pembangunan bangsa dan negara. Pengurus pesantren harus membentengi lembaga dan santrinya agar terbebas dari paham radikal.
"Statemen yang memojokkan pesantren juga perlu dieliminir sejauh mungkin," ujarnya.
Ia mengatakan, FPP yang bekerja sama dengan beberapa institusi seperti Kementerian Agama, hampir setiap bulan menggelar pertemuan di beberapa pesantren di Kepri. Selain melakukan diskusi di pesantren, FPP juga memberi beasiswa kepada santri.
Diskusi yang dilakukan FPP di berbagai pesantren bertujuan meningkatkan rasa nasionalisme santri dan mencegah masuknya paham radikal.
"Paham radikal itu merupakan perbuatan melawan hukum, karena itu harus dicegah," katanya.
Rizaldy menambahkan, FPP pada Selasa (17/7) menggelar sarasehan di Pesantren Ar Raudhah, Kabupaten Karimun, Kepri. Sarasehan bertema Jadikan Ramadhan 1433 H Sebagai Momentum Kebangkitan Generasi Muda Pondok Pesantren Dalam Upaya Menjaga Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dibuka Kepala Tata Usaha Kementerian Agama Karimun, Zamzuri, dan dihadiri tokoh agama, santri, pihak kepolisian, MUI, tokoh masyarakat dan pihak kecamatan.
Keberadaan pesantren di Karimun dianggap penting karena daerah itu berbatasan langsung dengan negara tetangga yakni Singapura dan Malaysia.
"Paham dan pengaruh asing yang menyesatkan berpotensi masuk di Karimun, karena posisi daerah tersebut strategis. Kami terus berupaya mencegah pengaruh asing melunturkan nilai-nilai nasionalisme generasi muda yang ada di Karimun," ungkapnya
Ia menegaskan, paham radikal yang dianut teroris merupakan paham sesat. Stigma bahwa pesantren sebagai sarang terorisme merupakan anggapan yang keliru dan harus di luruskan.
"Pesantren merupakan tempat untuk membina umat menjadi insan yang beriman dan bertaqwa, karena itu asumsi pesantren sebagi tempat teroris adalah salah besar. Orang yang terjerumus pada aksi-aksi terorisme adalah orang-orang yang sesat," katanya.
Hal senada juga disampaikan oleh pimpinan Pondok Pesantren Ar Raudhah, Abdurahman Nurani. Menurut dia, pesantren merupakan sebuah lembaga pendidikan yang mencetak generasi yang beriman namun memiliki wawasan yang luas.
"Lembaga pendidikan pesantren memadukan kemampuan intelektual dan spiritual. Harapannya lulusan dari pesantren bisa menjadi ahli pemikir dan ulama dalam bersama-sama membangun bangsa dan negara," ungkap Abdurahman. (KR-NP/E001)
Editor: Rusdianto
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
