Logo Header Antaranews Kepri

Menko Polhukam: Pemda Harus Dorong TTG

Kamis, 11 Oktober 2012 18:23 WIB
Image Print

Batam (ANTARA Kepri) - Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto mengatakan pemerintah daerah harus mendorong inovasi teknologi tepat guna yang dikreasikan masyarakat.

"Kami berharap pemimpin daerah terus memberi ruang dan dorongan TTG," kata Menteri saat membuka Gelar Teknologi Tepat Guna Nasional di Batam, Kamis.

Ia mengatakan pemerintah daerah hendaknya memberikan bantuan dan fasilitas agar pengembangan TTG dapat dilakukan optimal.

Pihak perguruan tinggi, pemerintah daerah dan pengusaha lokal harus bersinergi dalam mengembangkan TTG demi kesejahteraan masyarakat.

"Harus semangat berkarya dan berkreasi. Tidak boleh puas diri harus kembangkan PTT untuk mengembangkan usaha," kata dia.

Menteri mengatakan Indonesia kaya akan sumber daya alam dan juga memiliki sumber daya manusia yang besar sehingga penguasaan teknologi menjadi kebutuhan dasar untuk kesejahteraan rakyat.

Gelar Teknologi Tepat Guna Nasional hendaknya menjadi wadah sosialisasi teknologi terapan baru, kata Menteri.

"Pengenalan inovasi, pengembangan SDM sebagai dasar kreasi," kata Menteri melanjutkan.

Indonesia, dalam indeks internasional, menempati ranking 100 dari 122 negara dalam pengembangan TTG.

"Indonesia masuk dalam kelompok marginal," kata Menteri.

Maka dari itu, kata Menteri, pemerintah mengajak perguruan tinggi, pengusaha dan LSM untuk mendukung dan mendorong dalam menangkap peluang menghadapi tantangan masa kini dan mendatang dengan pengembangan TTG.

"Meningkatkan akses masyarakat dalam teknologi," kata Menteri.

Sementara itu, Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam akan membina peneliti muda di kawasan itu agar menghasilkan karya yang sesuai yang dibutuhkan industri setempat.

"Kami akan mendirikan 'technopark' sebagai inkubator para peneliti muda," kata Kepala Bidang Media dan Infrastruktur Pusat Pengelolaan data dan Sistem Informasi Badan Pengusahaan Batam, Noviandra Putra.

Ia mengatakan "technopark" yang kini sedang dirancang BP Batam nantinya menjadi wadah para peneliti mengembangkan minat penelitiannya.

Menurut dia, selama ini peneliti muda terkendala masalah risiko biaya dalam mengembangkan ide kreatif, sehingga banyak inovasi yang tertahan.

"Nanti, kami yang akan menanggung resiko 'finance' dan lainnya," kata dia.

Risiko biaya merupakan pengeluaran dana yang harus ditanggung dalam penelitian, misalnya kebutuhan perlengkapan dan risiko kegagalan sehingga harus mengulang penelitian.

"Jika risiko itu kami ambil, maka akan banyak peneliti yang berani melakukan penelitian," kata dia.

Awalnya, technopark itu dikhususkan untuk mahasiswa Politeknik Batam.

Konsep inkubator peneliti itu, kata dia, sukses di China. Ruang peneliti di China menghasilkan ratusan ribu inovasi baru yang berguna bagi industri. (ANTARA)

Editor: Rusdianto



Pewarta :
Editor: Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2026