
Program Pengobatan Filariasis Batam Lampaui Target

Batam (Antara Kepri) - Pemerintah Kota Batam mengklaim pengobatan massal mencegah penularan penyakit kaki gajah (filariasis) yang dilakukan sejak 11 Februari 2013 sudah melampaui target.
"Targetnya 60 persen, namun hingga saat ini sudah mencapai 77 persen penduduk Batam yang mengonsumsi obat gratis dari pemerintah tersebut," kata Kepada Dinas Kesehatan Kota Batam Chandra Rizal di Batam, Selasa.
Chandra mengatakan, hanya pada beberapa kompleks perumahan di Batam yang hingga saat ini belum mendapatkan obat filariasis dari pemerintah.
"Sekitar 22 persen yang belum dapat. Obatnya masih tersedia, mereka bisa memperolehnya," kata dia.
Menurut dia, pengobatan massal tersebut dilakukan setelah diketahui ada 14 warga Batam terjangkit penyakit yang mengakibatkan pembengkakan pada kaki penderita hingga menimbulkan kecacatan permanen.
"Kami tidak ingin penyakit yang diakibatkan gigitan nyamuk itu terus mewabah di Batam. Jadi warga diberikan obat tersebut secara gratis. Respons masyarakat bagus, sehingga program berjalan lancar," kata dia.
Ia mengatakan, bagi warga berusia dua tahun hingga 75 tahun yang belum mendapatkan obat filariasis diminta segera menghubungi Puskesmas terdekat untuk mendapatkannya secara gratis.
"Penyakit ini bisa diobati bila belum sampai terjadi pembengkakan dengan cara meminum obat tersebut," katanya.
Wali Kota Batam Ahmad Dahlan sebelumnya mengatakan pihaknya menyiapkan 1.540 kader kesehatan di seluruh Posyandu untuk membagikan obat filariasis kepada warga di seluruh wilayah.
"Kaki gajah juga sudah menjangkiti wilayah perkotaan, jadi seluruh masyarakat harus segera minum obat itu untuk pencegahan," kata dia.
Ia mengatakan, selain di Sembulang dan Galang yang wilayahnya sebagian besar masih berupa hutan, filariasis juga telah ditemukan di Bengkong, Batam Kota, Nongsa yang wilayahnya sudah jauh lebih maju. (Antara)
Editor: Rusdianto
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
