
Pewaris Kepri Bantah Manfaatkan Permasalahan Tambang

Tanjungpinang (Antara Kepri) - Peduli Warisan Sejarah Provinsi Kepulauan Riau membantah telah memanfaatkan permasalahan tambang bauksit di lokasi cagar budaya hulu Sungai Riau, Kota Tanjungpinang untuk kepentingan pribadi maupun organisasi.
"Kami hingga sekarang tetap melaksanakan komitmen menjaga cagar budaya Melayu di hulu Sungai Riau maupun kawasan lainnya," kata pengurus Peduli Warisan Sejarah Kepulauan Riau (Pewaris Kepri) Tengku Fuad, yang dihubungi dari Tanjungpinang, Rabu.
Fuad menegaskan, nota kesepahaman yang dibuat antara Pewaris Kepri dengan Suryono, pengusaha tambang bauksit pada 14 Maret 2013, bukan untuk mendapatkan keuntungan. Uang operasional yang diberikan Suryono sebesar Rp15 juta/bulan kepada Pewaris Kepri yang diangkat sebagai konsultan budaya akan digunakan untuk menjaga cagar budaya.
"Uang itu tidak besar, tidak sebanding dengan gambar perencanaan Makam Sultan Ibrahim yang telah dibuat. Upah untuk membuat gambar mencapai Rp40 juta," katanya.
Uang senilai Rp15 juta itu diberikan setiap bulan selama pemilik PT Sinar Bahagia Grup itu melakukan eksplorasi bauksit, pematangan dan pemotongan lahan hingga selesai tahapan pembangunan perumahan dan bangunan lainnya. Tetapi Pewaris bertanggung jawab terhadap hal-hal yang mengganggu aktivitas Sinar Bahagia.
"Hingga sekarang kami baru mendapatkan uang operasional, sementara kantor dan ruang kerja, satu unit kapal cepat belum direalisasikan," ungkapnya.
Sebelumnya, Tengku Fahmi, adik dari Tengku Fuad yang menjadi saksi di dalam MoU antara Pewaris Kepri dengan Suryono mengungkapkan, setiap organisasi berhak mengatur organisasinya sendiri, termasuk melakukan MoU dengan pihak ketiga.
MoU itu juga dibuat bukan untuk kepentingan organisasi, melainkan untuk menjaga cagar budaya. MoU dibuat dengan pihak ketiga yang melakukan penambangan di sekitar hulu Sungai Riau lantaran selama ini pemerintah kurang serius menjaga dan melestarikan cagar budaya.
Selama ini juga pihak swasta hampir tidak pernah memperhatikan cagar budaya Melayu. Karena itu, kata dia, beruntung saat ini ada pengusaha yang mau membantu menjaga aset budaya Melayu.
"Kami memang berkompeten mengurusi permasalahan cagar budaya," ujarnya.
Fahmi juga mengklarifikasi opini yang sempat terbangun di publik yang memaknai Pewaris Kepri sebagai ahli waris. Pewaris Kepri merupakan kumpulan orang-orang yang cinta terhadap budaya dan aset peninggalan Kerajaan Melayu Riau-Lingga.
"Kami membangun organisasi itu untuk menjaga cagar budaya," katanya. (Antara)
Editor: Rusdianto
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
