Logo Header Antaranews Kepri

Prevalensi anemia remaja putri di Batam tercatat 3,1 persen

Minggu, 15 Februari 2026 12:30 WIB
Image Print
Seorang pelajar sedang melakukan pemeriksaan hemoglobin darah oleh tenaga medis di Batam, Kepri. (ANTARA/Amandine Nadja)

Batam (ANTARA) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Batam, Kepulauan Riau (Kepri), menyampaikan kasus anemia pada remaja putri di Batam tercatat sebesar 3,1 persen atau sebanyak 739 orang pernah teridentifikasi mengalami anemia.

“Dari data 2025 ditemukan 739 remaja putri yang teridentifikasi anemia atau sekitar 3,1 persen dan seluruhnya sudah diobati sesuai standar,” ujar Kepala Dinkes Batam Didi Kusmarjadi saat dihubungi di Batam, Ahad.

Ia menjelaskan secara nasional prevalensi anemia pada tahun 2018 mencapai 48,9 persen. Sementara data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tahun 2025 mencatat sekitar 7,5 juta orang menderita anemia.

“Dengan perbandingan tersebut angka di Batam dinilai relatif lebih kecil. Kami juga melakukan pemeriksaan hemoglobin (Hb) di sekolah dan juga saat Cek Kesehatan Gratis (CKG) di sekolah maupun puskesmas,” katanya.

Ia mengatakan remaja yang hasil pemeriksaannya menunjukkan anemia akan mendapatkan penanganan berupa pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) sebanyak satu hingga dua tablet per hari selama dua hingga empat minggu.

“Setiap dua minggu dilakukan pemeriksaan ulang untuk memantau perkembangan. Jika masih anemia, pemberian TTD dilanjutkan atau dirujuk ke fasilitas kesehatan lanjutan sesuai kebutuhan,” kata dia.

Namun pelaksanaan program ini masih menghadapi sejumlah tantangan. Didi mengakui masih ada remaja yang tidak ingin mengkonsumsi tablet tambah darah.

“Tantangannya antara lain rendahnya kepatuhan konsumsi karena rasa mual, takut efek samping, adanya mitos keliru seperti menyebabkan berat badan berlebih, kurangnya pengetahuan, serta pengawasan guru yang minim,” katanya.

Selain itu distribusi yang belum merata serta dukungan sekolah dan orang tua yang masih rendah juga menjadi kendala.

Ia menegaskan tablet tambah darah tidak hanya dibutuhkan perempuan, tetapi juga laki-laki dalam kondisi tertentu. Namun remaja putri memiliki risiko lebih tinggi mengalami anemia karena menstruasi dan kebutuhan zat besi.

“Mengonsumsi TTD itu penting, karena juga untuk usia remaja dapat mencegah lemas, pusing, dan pingsan saat belajar, menjaga imun tubuh dan juga agar kesehatan produksi tetap terjaga,” katanya.

Ia mengatakan melalui program pencegahan anemia melalui anjuran konsumsi TTD, serta edukasi di sekolah, akan semakin menurunkan prevalensi anemia di kota itu.



Pewarta :
Editor: Yuniati Jannatun Naim
COPYRIGHT © ANTARA 2026