
Warga Karimun Keluhkan Asap Riau

Karimun (Antara Kepri) - Beberapa warga di Tanjung Balai Karimun, Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau, mulai mengeluhkan kabut asap dari Riau yang pada Rabu sejak siang hingga malam semakin tebal dibandingkan sehari sebelumnya.
"Saya mulai bersin dan batuk-batuk dalam dua hari ini sejak kabut asap menyelimuti kota," kata seorang warga Yusniati di Tanjung Balai Karimun.
Dia juga mengatakan anaknya yang masih kecil juga mengalami hal yang sama sehingga terpaksa berobat ke dokter.
"Kalau saya mungkin masih tahan, tapi anak yang masih kecil menangis karena kualitas udara yang tidak bagus," ucapnya.
Kabut asap yang menyelimuti Tanjung Balai Karimun juga tampak lebih tebal sehingga mulai membatasi jarak pandang saat berkendara di jalan raya.
"Memang belum terlalu mengganggu saat berkendara, tapi dampak bagi kesehatan sangat buruk. Sore hari saja kabut asap itu masih tampak jelas, apalagi pagi hari," ucapnya yang menyatakan akan mengenakan masker jika kabut asap dari daratan Pulau Sumatera itu makin tebal.
Arifin, warga lain mengatakan pemerintah perlu mengambil langkah-langkah untuk mengantisipasi maraknya penyakit infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) akibat kabut asap.
"Kabut asap seolah-olah menjadi bencana yang terjadi setiap tahun. Pemerintah juga perlu menindak para pembakar lahan karena dampaknya sampai ke mana-mana, bahkan sampai ke negara tetangga, Singapura," ucapnya.
Sementara itu, perairan Tanjung Balai Karimun juga memutih akibat kabut asap. Kapal-kapal yang melintas tampak samar, termasuk Pulau Parit yang berhadapan dengan pelabuhan Tanjung Balai Karimun yang juga diselimuti kabut asap.
Kepala Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan Tanjung Balai Karimun Gajah Rooseno mengatakan jarak pandang di laut masih aman bagi pelayaran.
"Jarak pandang belum di bawah satu mil atau 500 meter sehingga masih aman bagi pelayaran. Kami akan terus berkoordinasi dengan BMKG mengingat kabut asap yang makin tebal," kata dia.
Dia mengimbau pelaku pelayaran, terutama kapal cepat waspada dan memanfaatkan sarana navigasi untuk mencegah kecelakaan laut.
"Nakhoda kami imbau cermat memantau lalu lintas kapal dengan menggunakan radar dan GPS. Selain itu, nyalakan sirine dan lampu navigasi sehingga bisa dilihat oleh kapal lain yang melintas," tambahnya. (Antara)
Editor: Jo Seng Bie
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
