
Cuaca Buruk Landa Anambas

Anambas (Antara Kepri) - Kondisi cuaca di Kabupaten Kepulauan Anambas dalam sepekan terakhir cukup mengkhawatirkan karena hujan disertai angin kencang tiada hentinya terjadi tiap hari.
Kepala Stasiun Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Tarempa, Anggriono, di Tarempa, Senin, mengatakan kendati belum memasuki musim utara, namun kondisi gelombang sudah cukup mengkhawatirkan.
"Hingga tanggal 5 mendatang kondisi gelombang berpotensi cukup tinggi, jelas Anggriono.
Dari pantauan Stasiun BMKG Tarempa, tanggal 2 Desember ini kondisi gelombang di wilayah laut Kabupaten Kepulauan Anambas berkisar antara 2 meter hingga 6 meter. Namun gelombang akan berangsur-angsur berkurang hingga tanggal 5 Desember 2013.
Prakiraan gelombang sampai tanggal 5 Desember. Kalau sekarang tingginya 2 meter hingga 6 meter. Namun nanti akan perlahan-lahan berkurang, hingga menjadi 0.5 meter hingga 5 meter, jelasnya.
Ditambahnya , arah gelombang dari utara hingga barat daya. Tapi itu juga masih terhitung tinggi, sementara itu untuk kekuatan angin juga cukup mengkhawatirkan, berkisar antara 5 knot hingga 28 knot. Angin berhembus dari arah Timur Laut atau Tenggara. Kondisi cuaca diwarnai dengan curah hujan tinggi, angin kencang disertai dengan badai guntur.
Kondisi cuaca seperti ini, menurut Anggriono berpotensi menimbulkan angin puting beliung yang bisa meluluh lantakan sejumlah rumah atau perahu nelayan, namun terjadinya angin puting beliung juga tergantung pertumbuhan awan.
Potensi puting beliung pasti ada, tapi itu tergantung pertumbuhan awan hitam pekat yang sebut cumulonimbus. Jika pertumbuhan awan tersebut pesat, maka kemungkinan besar akan terjadi. Tapi kita harap tidak ada, ungkapnya.
Ia mengatakan, dengan kondisi seperti ini, diharapkan para nelayan atau pengguna transportasi laut untuk lebih bijaksana. Pasalnya dengan cuaca tidak bersahabat, perlu perhitungan yang matang bagi pelaut dan pengguna transportasi laut untuk melakukan pelayaran.
"Secara langsung saya tidak bisa melarang untuk tidak melaut, atau berlayar. Tapi saya mengimbau supaya nelayan, pengguna transportasi laut, baik cargo maupun penumpang, untuk lebih berhati dan mempertimbangkan kondisi cuaca ini dengan bijaksana," imbau Anggriono.
Sementara itu, Ardiman, salah seorang warga Tarempa yang baru saja menggunakan transportasi laut, KM. Binaiya meganaku sangat khawatir dengan kondisi laut yang tidak bersahabat ini. dirinya menceritakan, ketika menumpang KM Binaiya, gelombang laut mampu mengguncang kapal Pelni dengan sangat kencang.
"Air laut sampai masuk ke bagian depan kapal Binaiya itu . Saya tidak bisa bayangkan, kapal sebesar Binaiya saja bisa diombang-ambing gelombang, apalagi jika ukurannya kecil," ujar Ardiman.
Namun penggunaan transportasi laut menurut Faisal tidak bisa dihindari, pasalnya sebagai wilayah maritim yang 98% wilayahnya adalah Lautan, transportasi laut adalah pilihan utama masyarakat Anambas untuk mobilisasi barang dan manusia.
"Mau gimana lagi, memang transportasi yang umum di Anambas itu adalah transportasi laut, jadi mau tidak mau kita harus menghadapinya. Tapi ini harus menjadi perhatian pemerintah, agar dapat menyediakan sarana transportasi laut yang bisa tahan dan aman walaupun dengan kondisi cuaca yang ekstrem seperti ini," katanya. (Antara)
Editor: Evy R. Syamsir
Pewarta :
Editor:
Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
