Logo Header Antaranews Kepri

Pengusaha Jamin Kepri Bisa Swasembada Pangan

Senin, 2 Desember 2013 20:17 WIB
Image Print

Tanjungpinang (Antara Kepri) - Pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Industri Sabut Kelapa menjamin Provinsi Kepulauan Riau mampu swasembada pangan meski sebagian daratan pada beberapa kabupaten dan kota merupakan lahan tandus.

"Kami sanggup mengubah Kepulauan Riau yang konsumtif menjadi produsen pangan hanya dengan teknologi sederhana. Kami sudah membuktikan sehingga menyanggupinya jika itu diinginkan pemerintah," kata Ketua Bidang Penelitian Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesia Ady Indra Pawennari di Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri), Senin.

Ady tidak dapat menerima pernyataan Pemerintah Kepri maupun kabupaten dan kota bahwa wilayah yang hanya memiliki sekitar empat persen daratan itu tidak dapat memenuhi kebutuhan pangan masyarakatnya sehingga selama ini jagung dan singkong berasal dari luar daerah bahkan diimpor dari beberapa negara.

Pemerintah beralasan sebagian lahan di Kepri tandus, dan sudah ditambang oleh pengusaha bauksit, seperti di Pulau Bintan (Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan), Karimun dan Lingga.

"Bagi kami alasan itu tidak dapat diterima, karena sudah terbukti bahwa lahan pascatambang dapat menjadi lahan produktif melalui teknologi rekayasa yang sederhana. Kami sudah membuktikannya di atas lahan pascatambang, dengan mengubah lahan yang lapisan atasnya sudah ditambang menjadi lahan pertanian," ujarnya.

Menurut dia, mengubah lahan pascatambang menjadi lahan produktif, awalnya membutuhkan dana yang cukup besar, karena harus menggunakan serbuk sabut kelapa. Namun selanjutnya, biayanya menjadi murah, karena serbuk sabut kelapa yang berperan menyimpan air dan sebagai unsur hara mampu bertahan selama empat tahun.

"Awalnya saja membutuhkan biaya yang cukup besar, tetapi selanjutnya tidak, karena serbuk sabut kelapa itu tahan lama. Kami menjual satu kilogram serbuk sabut kepala Rp1.500," katanya.

Ady melakukan percobaan pertama penanaman bibit jagung di atas lahan seluas satu hektare yang pernah ditambang PT Lobindo. Selama sekitar sebulan lahan itu ternyata berubah menjadi lahan perkebunan jagung yang subur.

"Bibit jagung yang ditanam di lahan seluas satu hektare di antara Tanjungpinang dengan Wak Copek, Bintan, tumbuh subur," ungkapnya.

Selain itu, dia juga menanam singkong di salah satu lahan bekas penambangan bauksit di Bintan. Bibit singkong itu tumbuh subur dan siap dipanen dalam waktu dekat.

"Penanaman jagung itu dilakukan secara alami tidak menggunakan bahan kimia. Di atas lahan bekas penambangan bauksit itu, yang dulunya disangka sebagai lahan mati, hanya diberi serbuk sabut kelapa," katanya. (Antara)

Editor: Rusdianto



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026