
474 Hektare Hutan Batam Terbakar

Batam (Antara Kepri) - Kantor Penanggulangan Bahaya Kebakaran Direktorat Pengamanan Badan Pengusahaan (BP) Batam mencatat sejak Januari hingga awal Maret 2014 seluas 474 hektare hutan di Kota Batam terbakar akibat cuaca panas dan kesalahan manusia.
"Total yang terbakar 474 hektare. Sekitar 265 hektare merupakan hutan lindung. Sisanya semak-semak dan hutan konservasi," kata Kepala Kantor Penanggulangan Bahaya Kebakaran Direktorat Pengamanan Badan Pengusahaan (BP) Batam, Slamet Sriyanto di Batam, Sabtu.
Ia mengatakan, kebakaran merata pada semua wilayah Batam, namun paling besar kawasan hutan lindung Sei Harapan, Matakucing, dan Bukit Harimau, Tanjungpinggir, Sei Temiang yang masuk Kecamatan Sekupang, dan beberapa titik di Batuaji.
"Beberapa wilayah yang kebakarannya meluas rata-rata karena medannya susah dijangkau. Untuk yang mudah dijangkau rata-rata tidak sampai meluas," kata dia.
Slamet mengatakan, kebakaran mutan lindung kemungkinan terus meluas karena saat ini kebakaran di sekitar Bukit Matakucing Sekupang yang tidak jauh dari Komplek Tiban Housing api masih berkobar.
Pada beberapa titik, kata dia, kebakaran sulit dipadamkan karena sumber air di hutan sudah mengering.
"Kami mengimbau masyarakat untuk berperan aktif, melaporkan jika terjadi kebakaran. Selain itu, kami juga meminta masyarakat tidak melakukan pembakaran karena kondisi Batam sangat kering dan bisa memicu kebakaran meluas," kata Slamet.
Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Riau di Batam, Nur Patria Kurniawan mengatakan luas hutan konservasi Batam yang terbakar mencapai 20 hektare.
"Untuk konservasi yang terbakar di Mukakuning dengan status Hutan Taman Wisata Alam (TWA)," kata dia.
Ia mengatakan, selain menjaga kawasan hutan konservasi, BKSDA juga membantu tim pemadam dari BP Batam dan Pemkot Batam mengamankan dan memadamkan kebakaran yang masih terus terjadi. (Antara)
Editor: Rusdianto
Pewarta :
Editor:
Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
