
Blogger Batam Bahas Bonus Demografi

Batam (Antara Kepri) - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional bersama komunitas blogger Kompasiana mengadakan dialog membahas bonus demografi yang dinilai akan memberikan peluang kemajuan bagi Indonesia.
Kegiatan yang dilaksanakan Rabu (8/10) malam di kawasan Batam Centre tersebut dipandu oleh Nurullah, editor kompasiana.com dengan narasumber Direktur Advokasi Komunikasi Informasi dan Edukasi BKKBN Yunus Patriawan Noya.
Narasumber lainnya Kepala Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Sonny Harry Budiutomo Harmadi, Direktur Analisis Dampak Kependudukan BKKBN Suyono Hadinoto.
Sonny mengatakan agar bisa maksimal peluang bonus demografi untuk meningkatkan kesejahteraan, Indonesia perlu meembangun karakter dan etika pada masyarakat.
"Bonus demografi adalah potensi manfaat ekonomi yang diperoleh karena penduduk didominasi usia produktif (15-64 tahun). Jika penduduk usia tersebut tidak memiliki karakter, etika, kreatifitas dan semangat kerja, bisa jadi bonus demografi akan berdampak negatif," kata dia.
Yang harus diwaspadai, kata dia, angkatan kerja Indonesia saat ini 47 persen hanya lulusan SD.
"Tugas dari masyarakat yang melek teknologi termasuk para bloger, harus terus menggaungkan bonus demografi agar hal ini menjadi perhatian pemerintah. Sehingga peluang ini akan memberikan dampak positif bangi Indonesia," kata Sonny.
Ia mengatakan negara yang sangat sukses memanfaaatkan bonus demografi adalah Tiongkok, Korea, Taiwan. Sementara negara yang tidak maksimal memanfaatkan bonus demografi adalah Afrika Selatan dan Brazil.
"Negara yang sukses biasanya memiliki dendam positif akan masalah bangsa tersebut dimasa lalu. Sehingga penduduknya sangat gigih untuk membangun negaranya lebih baik," kata dia.
Sementara Yunus P. Noya mengatakan untuk menciptakan generasi yang siap menghadapi bonus demografi, setiap anak harus disiapkan sejak 1.000 hari pertama kehidupan.
"Sejak itu harus sudah tertanam bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa besar yang membutuhkan generasi muda yang cerdas. Revolusi mental generasi muda harus ditanamkan," kata dia.
Direktur Analisis Dampak Kependudukan BKKBN Pusat Suyono Hadi Noto mengatakan dari sisi kualitas, jumlah penduduk Indonesia yang besar ternyata tidak diimbangi dengan mutu sumber daya manusia yang memadai.
Dari sisi persebaran dan mobilitas penduduk, dijumpai ketimpangan persebaran penduduk yang tidak merata, dan terkonsentrasi hanya di pulau Jawa dan Madura.
Jika dilihat dari sisi data atau administrasi kependudukan, catatan rutin kependudukan atau registrasi vital penduduk belum terdokumentasi secara lengkap dan komprehensif.
"Pemerintah harus mempersiapkan pendidikan bagi warga diluar usia sekolah. Bukan hanya pada usia sekolah saja. Tujuannya meningkatkan indek pembangunan manusia Indonesia," kata dia.(Antara)
Editor: Dedi
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
