Logo Header Antaranews Kepri

Nelayan Natuna Tak Melaut Harga Ikan Melambung

Kamis, 8 Januari 2015 22:33 WIB
Image Print

Natuna (Antara Kepri) - Nelayan di sekitar Kota Ranai, Kecamatan Bunguran Timur, Kabupaten Natuna mengaku takut melaut karena ombak besar disertai angin kencang sehingga mengakibatkan melambungnya harga ikan di pasaran.

Ikan tenggiri ukuran sedang dari harga sebelumnya Rp20 ribu per ekor, kini Rp35 ribu. Ikan sisik dengan ukuran sedang sebelumnya Rp15 ribu per ekor, kini Rp30 ribu per ekor, sedangkan yang berukuran besar yang biasa dijual Rp40 ribu per ekor kini naik menjadi Rp50 ribu, bahkan ada yang menjual Rp60 ribu per ekornya.

Kemudian, cumi yang biasa dijual satu kilo Rp20 ribu, kini menjadi Rp30 ribu, Ikan mahan biasa Rp15 ribu per kilogram kini naik menjadi Rp25 ribu per kilogram. Sedangkan udang harga biasanya Rp40 ribu/kg, kini naik menjadi Rp60 ribu/kg. Ikan tongkol bisanya Rp15 ribu/kg kini menjadi Rp30 ribu/kg.

"Kenaikan harga ikan di pasar Ranai ini sudah terjadi semenjak seminggu yang lalu. Dikarenakan nelayan di sekitar kota Ranai ini takut melaut, akibat gelombang tinggi dan angin kencang," ungkap Sapri salah seorang pedagang ikan di pasar Ranai.

Menurut dia, harga ikan akan normal kembali jika nelayan sudah pergi melaut. Akan tetapi bila nelayan masih tidak melaut di karenakan cuaca tidak bersahabat, dipastikan harga ikan akan mahal bahkan cenderung naik lagi.

"Tidak ada ikan yang masuk, kalaupun ada itu sangat sedikit dan habis dijual langsung nelayan kepada pembeli. Karena saat nelayan bongkar ikan, pembeli sudah banyak yang menunggu,"kata dia lagi.

Sementara itu, Saprizal salah seorang nelayan tradisional dijumpai di pasar Ranai mengaku, kalau dirinya dan para nelayan tradisional lainya di sekitar kota Ranai ini takut untuk melaut, dikarenakan gelombang tinggi. Saat ini katanya, gelombang laut di perairan Natuna mencapai 2 hingga 3 meter.

"Bagaimana kita tidak pergi melaut, gelombang laut sana sedang tinggi-tingginya, diperkirakan mencapai 3 meter," katanya.

Kalau dipaksakan juga pergi melaut, jelasnya, dikhawatirkan akan berakibat fatal, bisa-bisa kapal akan tenggelam, bahkan nyawa yang menjadi taruhannya.

"Daripada banyak rugi dan nyawa hilang, lebih baik kita urungkan untuk melaut. Hal ini sudah biasa bagi nelayan Natuna," pungkasnya. (Antara)

Editor: Rusdianto



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026