Logo Header Antaranews Kepri

Kepri Deflasi Didorong Penurunan Harga BBM

Rabu, 4 Februari 2015 16:55 WIB
Image Print

Batam (Antara Kepri) - Provinsi Kepulauan Riau mengalami deflasi sebesar 0,32 persen (mtm) pada Januari 2015, hal itu didorong oleh penurunan harga BBM bersubsidi dan tarif angkutan.

"Deflasi Januari tercatat sebesar 0,32 persen (mtm), atau 6,39 persen (yoy), berlawanan arah dibanding bulan sebelumnya yang mencatatkan inflasi sebesar 2,70 persen (mtm) atau 7,5 persen (yoy)," kata Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kepulauan Riau Rino Is Triyanto di Batam, Rabu.

Deflasi yang terjadi di Kepri lebih tinggi dibanding nasional yang juga sebanyak 0,24 persen (mtm) atau 6,96 persen (yoy).

Sementara di tingkat kota, Batam mengalami deflasi sebesar 0,41 persen (mtm) atau 6,39persen (yoy) dan Kota Tanjungpinang mengalami inflasi sebesar 0,19 persen (mtm) atau 6,36 persen (yoy).

BI mencatat kelompok "administreted price" menjadi penyumbang deflasi Januari, sebesar 4,04 persen (mtm) dan andil -0,89 persen.

Deflasi kelompok "adminestred price" didorong oleh penurunan harga beberapa komoditas yang ditetapkan oleh pemerintah antara lain harga BBM bersubsidi (bensin dan solar), elpiji 12 kg serta semen.

Penurunan harga komoditas tersebut diberlakukan per tanggal 19 Januari 2015, bensin dari harga Rp7.600 menjadi Rp6.600, solar dari harga Rp7.250 menjadi Rp6.400, elpiji 12 kg dari harga Rp135.000 menjadi Rp129.000 serta harga semen yang turun Rp3.000 per sak.

Selain itu, deflasi kelompok "administered price" juga disumbang oleh penurunan tarif angkutan udara, laut, dan tarif taksi.

Sementara andil terbesar inflasi disumbang oleh kelompok inti, yaitu sebesar 0,77 persen (mtm) dan andil 0,45 persen.

Inflasi kelompok inti terutama dipicu oleh peningkatan harga kelompok makanan jadi, upah pembantu RT, emas perhiasan, dan harga semen yang merupakan penyesuaian biaya operasional dengan kondisi terkini. Meskipun penurunan harga semen telah diberlakukan, harga komoditas semen di Kepri tercatat mengalami inflasi sebesar 4,31 persen (mtm) dengan andil 0,02 persen.

Kelompok "volatile food" inflasi 0,53 persen (mtm) dengan andil 0,10 persen. Inflasi kelompok itu terutama didorong oleh kenaikan harga kelompok sayuran, telur ayam ras dan ikan segar.

Menurut dia, kenaikan harga komoditas sayuran dan bahan makanan merupakan dampak ganguan distribusi barang serta berkurangnya hasil tangkapan nelayan akibat tingginya gelombang laut yang disebabkan angin musim utara yang diperkirakan baru akan berakhir pada pertengahan Februari. (Antara)

Editor: Rusdianto



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026