
Gubernur: Perairan Kepri Peluang Pendapatan Daerah

Laut memiliki sumber daya hayati yang dapat dilestarikan dan dikelola untuk kepentingan masyarakat dan negara. Potensi ini tidak dimiliki wilayah yang didominasi oleh daratan
Tanjungpinang (Antara Kepri) - Gubernur Kepulauan Riau Muhammad Sani berpendapat perairan laut di provinsinya yang mencapai 96 persen bukan merupakan hambatan dalam pembangunan melainkan peluang menambah pendapatan daerah.
"Laut memiliki sumber daya hayati yang dapat dilestarikan dan dikelola untuk kepentingan masyarakat dan negara. Potensi ini tidak dimiliki wilayah yang didominasi oleh daratan," katanya di Gedung Daerah Tanjungpinang, Jumat.
Sani mengatakan sektor kelautan di Kepri belum dikelola secara maksimal. Pengelolaan masih dilakukan secara tradisional dan belum digarap secara keseluruhan.
Contohnya ikan, masih ditangkap dengan menggunakan peralatan tradisional, meski kelestarian ikan dan terumbu karang diwajibkan dipelihara oleh nelayan.
Selain itu, perairan Kepri yang berbatasan yang negara tetangga dapat membuka lapangan kerja, menghasilkan pendapatan untuk daerah dan negara. Caranya, lanjut dia dengan membangun pelabuhan di pulau-pulau yang dilalui kapal-kapal asing.
Sektor pariwisata di pulau-pulau sudah mulai digarap, namun hanya beberapa kabupaten dan kota, seperti Bintan dan Batam. Sementara daerah lain belum digarap.
"Banyak potensi kelautan yang masih digarap. Kepri memiliki kekayaan yang berada di perairan," ujarnya.
Sementara terkait sektor transportasi, Sani menjelaskan laut seperti daratan. Laut juga dapat dijadikan seperti jalan tol, sama seperti daratan.
Pemerintah Kepri sampai sekarang masih menyelenggarakan program merangkai pulau dengan mengadakan alat transportasi laut, seperti kapal motor, kapal cepat dan perahu.
"Kepri masih perlu menambah kapal untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat," katanya. (Antara)
Editor: Rusdianto
Pewarta : Niko Panama
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
