Logo Header Antaranews Kepri

Pengusaha Hotel Kepri Merugi Akibat Asap Tebal

Sabtu, 19 September 2015 01:19 WIB
Image Print
Mereka pasti berpikir lebih baik di rumah, daripada berlibur dengan menghirup udara yang tidak sehat, yang justru dapat menimbulkan penyakit

Tanjungpinang (Antara Kepri) - Pengusaha perhotelan menderita kerugian akibat asap tebal dari beberapa kawasan di Riau, Jambi, dan Bangka Belitung, kata Dewan Penasihat Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia Provinsi Kepulauan Riau Rudy Chua.

"Wisatawan domestik maupun mancanegara malas ke Kepri lantaran asap mencemari udara wilayah tersebut," katanya di Tanjungpinang, Jumat.

Pemilik dua hotel di Tanjungpinang itu menjelaskan turis berlibur ke Tanjungpinang, Bintan, Karimun, dan Batam untuk menikmati udara segar dan suasana yang nyaman, namun asap tebal yang menyelimuti udara membuat wisatawan domestik dan mancanegara mengurungkan niat ke daerah tersebut.

Wisman berkebangsaan Singapura paling banyak mengunjungi Kepri setiap hari dibanding wisman kebangsaan lainnya. Dalam kondisi seperti ini, wisman asal Singapura tidak mungkin mau buang-buang uang berlibur ke Kepri.

Wisman asal Malaysia juga cukup banyak mengunjungi Kepri. Saat asap tebal, mereka tidak akan menghabiskan uang mereka tanpa dapat menikmati kenyamanan.

"Mereka pasti berpikir lebih baik di rumah, daripada berlibur dengan menghirup udara yang tidak sehat, yang justru dapat menimbulkan penyakit," ujarnya.

Rudy yang juga menjabat sebagai anggota Komisi II DPRD Kepri mengemukakan perusahaan mengalami kerugian yang besar bila tidak ada tamu yang menginap di hotel. Bahkan bila kondisi ini tidak segera dibenahi, usaha perhotelan tidak dapat bertahan lama.

"Biaya operasional perhotelan itu cukup besar. Kalau tidak ada tamu menginap, perusahaan akan mengalami kerugian," ucapnya.

Legislator yang diusung Partai Hati Nurani Rakyat itu mengatakan asap yang mencemari udara di Kepri tidak hanya merugikan perusahaan perhotelan dan restoran, melainkan juga kesehatan masyarakat, nelayan, perekonomian, pendidikan dan sektor transportasi.

"Bukan hanya masyarakat Malaysia, Singapura dan Kepri yang marah dengan kondisi seperti ini, melainkan juga masyarakat yang berada di dekat lokasi kebakaran hutan dan lahan," katanya.

Dia meminta pemerintah bersikap tegas dalam mengatasi permasalahan ini. Tanpa sikap tegas, kondisi yang sama akan dirasakan kembali masyarakat pada tahun mendatang.

"Ini bukan pertama kali terjadi. Karena itu saya minta masyarakat bersikap tegas agar tidak terulang lagi di kemudian hari," katanya. (Antara)

Editor: Rusdianto



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026