Logo Header Antaranews Kepri

Pemkot Batam Bangun Masjid Agung

Minggu, 30 April 2017 23:45 WIB
Image Print
Tahun 2009, ketika saya keliling masjid, pernah pada satu Jumat, saya shalat di sekitar Batuaji. Sewaktu shalat, saya melihat banyak saudara kita yang sudah keluar sebelum khutbah selesai, dan akhirnya mereka tidak shalat

Batam (Antara Kepri) - Pemerintah Kota Batam Kepulauan Riau memulai pembangunan Masjid Agung di sekitar Kawasan Industri Galangan Kapal, Tanjunguncang, untuk memenuhi kebutuhan rumah ibadah para pekerja industri berat.

Pembangunan ditandai dengan peletakan batu pertama sekaligus pengumuman nama masjid Sultan Abdurrahmansyah, oleh Wali Kota Batam Muhammad Rudi di Batam, Minggu.

Wali Kota menyatakan sengaja memilih Kawasan Industri di Tanjunguncang untuk membangun Masjid Agung, karena minimnya fasilitas ibadah di daerah pesisir itu.

"Tahun 2009, ketika saya keliling masjid, pernah pada satu Jumat, saya shalat di sekitar Batuaji. Sewaktu shalat, saya melihat banyak saudara kita yang sudah keluar sebelum khutbah selesai, dan akhirnya mereka tidak shalat," tutur Rudi bercerita.

Ternyata, para pekerja terburu-buru hingga melalaikan ibadahnya karena waktu istirahat bekerja hampir habis. Dan jarak tempuh dari masjid ke lokasi industri nisbi jauh dan membutuhkan waktu.

Saat itu, Rudi mengaku tidak bisa berbuat banyak, karena masih menjabat sebagai anggota DPRD yang tidak punya kekuasaan untuk mendapat lahan.

Maka, ketika terpilih sebagai Wakil Wali Kota Batam di 2011, ia meminta lahan untuk pembangunan masjid di Kawasan Industri Tanjunguncang kepada pemilik hak kelola lahan di pulau utama, Badan Pengushaan (BP) Kawasan Batam. Dan permohonan itu baru diluluskan dua tahun kemudian, Pemkot memperoleh lahan seluas 2 hektare.

"Tapi tidak cukup. Kami minta semua lahan di sini, tak termasuk fasum. Maka lahan 4,2 hektare ini menjadi Masjid Sultan Abdurrahmansyah," paparnya.

Sementara itu, nama Masjid Agung Sultan Abdurrahmansyah dipilih setelah mendapatkan masukan dari Lembaga Adat Melayu (LAM) dan tokoh masyarakat.

Ketua LAM Kota Batam, Nyat Kadir mengatakan Abdurahmansyah adalah sultan terakhir atau ke-17 dalam imperium Melayu, dengan periode kesultanan 1812-1824. Ketika terbelah menjadi dua, Singapura-Johor-Pahang dan Riau-Lingga, Sultan Abdurrahman ditunjuk menjadi sultan pertama di Riau-Lingga.

"Sultan Abdurrahman semasa hidupnya terkenal sangat kuat ibadah. Malam Jumat semalaman sampai subuh membaca Al Quran. Setiap Jumat ziarah ke makam ayahandanya. Selesai ziarah kembali ke istana, beliau menjamu masyarakat lalu mengadakan dialog dengan masyarakat, mendengarkan keluhan masyarakat. Sampai beliau digelar Raja Jumaat," tutur pria yang juga anggota DPR RI daerah pemilihan Kepri itu.

Sosok Sultan Abdurrahmansyah yang dekat dengan Allah patut dicontoh masyarakat Batam.

"Mudah-mudahan menjadi sumber inspirasi kami. Pemimpin di sini semoga jadi dekat dengan masyarakat," ujarnya.

Acara peletakan batu pertama Masjid Agung Batam itu juga diisi dengan zikir yang dipimpin Ustad Arifin Ilham dari Majelis Zikir Az Zikra, sekaligus memperingati Isra Miraj.

"Masjid adalah rumah Allah, masjid adalah rumah Rasulullah, masjid adalah rumahnya para malaikat. Masjid juga rumah anak yatim, rumah dhuafa, markas jihad, markas perjuangan. Mari kita berdoa agar masjid yang dibangun, diberkahi Allah," kata Arifin Ilham mengajak memulai doa. (Antara)

Editor: Rusdianto



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026