Disbudpar Batam siapkan Bucu Kebudayaan untuk melestarikan budaya

id bucu kebudayaan, kebudayaan melayu

Disbudpar Batam siapkan Bucu Kebudayaan untuk melestarikan budaya

Sejumlah pegawai Disbudpar Kota Batam membuat rumah ketupat di Bucu Kebudayaan. ANTARA/HO-Dok Disbudpar Batam

Batam (ANTARA) - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam Kepulauan Riau menyiapkan Bucu Kebudayaan di kantornya, sebagai tempat pegawai untuk melestarikan budaya daerah.

"Ini merupakan upaya kami dalam mengimplementasikan Pokok-pokok Kebudayaan Daerah," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam Ardiwinata di Batam, Kamis.

Pihaknya sengaja menggunakan bahasa Melayu "Bucu" sebagai kata ganti pojok, juga demi melestarikan bahasa daerah, sesuai dengan Pokok-pokok Kebudayaan Daerah (PPKD).

Ardi menyatakan dengan adanya Bucu Kebudayaan di kantornya, maka pegawai dapat memanfaatkan waktu luang dan istirahatnya untuk mempraktikkan 10 pokok pikiran kebudayaan daerah.

"Di sana pegawai bisa menekat (menyulam) Tudung Manto , membuat anyaman tikar, keranjang dari daun pandan dan banyak lainnya," kata dia.

Dan pada sehari menjelang Idul Adha, pegawai di Disbudpar membuat anyaman ketupat dari daun kelapa.

"Ini juga untuk melestarikan tradisi masyarakat Melayu dalam menyambut Hari Raya Idul Adha 1441 H," kata dia.

Dalam adat Melayu, ketupat menjadi satu hidangan wajib pada hari raya.

"Di sela-sela waktu luang, kami memanfaatkan waktu membuat sarang ketupat sebagai tanda kebahagiaan di Hari Raya Idul Adha," kata dia.

Di Bucu Kebudayaan, pihaknya akan melatih pegawai untuk menerapkan tradisi Melayu lainnya, agar budaya Melayu tetap lestari.

Bucu Kebudayaan merupakan bagian ruang pamer di kantor Disbudpar, yang dirancang dengan nuansa Melayu. Dindingnya yang dihiasi kain tabir warna khas Melayu warna merah, hijau, dan kuning.

Kemudian terdapat lukisan cogan dan dipajang alat musik tradisional Melayu.

"Kami ingin memajukan budaya Melayu, memajukan pariwisata di Kota Batam sehingga tradisi ini tetap lestari dan para generasi muda dapat merasakannya," kata Ardi
 
Pewarta :
Editor: Evi Ratnawati
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar