Jakob Oetama: Media Cetak Akan Tetap Eksis
Selasa, 2 November 2010 16:00 WIB
Ilustrasi: Beberapa media cetak terbitan Kepulauan Riau. (kepri.antaranews.com/jo seng bie)
Jakarta (ANTARA) - Pemimpin Umum Kompas Jakob Oetama menyatakan bersyukur surat kabar harian itu telah diterima masyarakat Indonesia selama 45 tahun dan media cetak akan tetap eksis di tengah perkembangan media televisi dan Internet.
"Media cetak, seperti Kompas, akan tetap eksis karena dengan membaca akan memberikan ruang waktu bagi pembaca untuk berpikir, menelaah dan menganalisa. Sesuatu yang tidak kita dapat hanya dengan menonton," katanya saat bertemu dengan Dirut Perum LKBN Antara Ahmad Mukhlis Yusuf di Jakarta, Selasa 2 November 2010.
Jakob didampingi Pemimpin Redaksi Kompas Rikard Bagun. Sedangkan Mukhlis Yusuf didampingi Pemred Antara Saiful Hadi dan anggota Dewan Pengawas Antara Asro Kamal Rokan.
Menurut Jakob, teknologi informasi berkembang sangat cepat, sehingga orang bisa mengakses berita melalui berbagai media, termasuk Internet. Akan tetapi, suratkabar tetap dibutuhkan. "Orang kan harus baca, masak nonton terus," katanya.
Selama suratkabar seperti Kompas tumbuh, katanya, maka ia akan tetap membutuhkan kantor berita. "Kantor berita Antara tetap diperlukan sebagai perbandingan dan pengayaan," katanya.
Dulu, lanjut Jakob, berita Antara merupakan sumber utama untuk dikutip suratkabar.
Berita Antara lebih cepat karena kantor berita nasional itu punya hubungan sangat dekat dengan narasumber yang umumnya para pejabat.
Sekarang, katanya, zaman sudah berubah dan media pelanggan Antara memiliki sumberdaya manusia dan peralatan yang memungkinkan juga bisa lebih cepat dalam laporannya.
"Tapi kami masih membutuhkan Antara untuk perbandingan dan pengayaan. Satu dua juga untuk pengutipan. Antara harus mencari celah-celah berita yang tidak dibuat oleh wartawan surat kabar," katanya.
Salah satu berita yang diperlukan pelanggan seperti Kompas adalah berita-berita daerah. Jaringan Antara di daerah diakui lebih kuat dari Kompas.
Sebagai contoh Kompas tidak memiliki wartawan di daerah Madura. Berita-berita dari daerah itu diliput oleh wartawan Kompas dari Surabaya.
"Setiap daerah punya permasalahannya sendiri. Gali itu. Angkat figur-figur di daerah, persoalan otonomi dan perbatasan. Koran tidak punya koresponden di setiap daerah seperti Antara," lanjutnya lagi.
Menjawab pertanyaan apa kiatnya sehingga Kompas bisa eksis selama puluhan tahun, Jakob mengatakan, karena mengusung masalah kemanusiaan, ke-Indonesia-an dan keimanan.
"Dengan senantiasa bersyukur atas berkah yang sudah didapat, rendah hati, jujur dan memelihara keimanan yang teguh kepada sang Maha Pencipta, dari latar belakang agama manapun, maka kita akan menemukan jalan menyatukan pluralitas serta menggerakkan sinergi," kata Jakob Oetama. (ANTARA)
"Media cetak, seperti Kompas, akan tetap eksis karena dengan membaca akan memberikan ruang waktu bagi pembaca untuk berpikir, menelaah dan menganalisa. Sesuatu yang tidak kita dapat hanya dengan menonton," katanya saat bertemu dengan Dirut Perum LKBN Antara Ahmad Mukhlis Yusuf di Jakarta, Selasa 2 November 2010.
Jakob didampingi Pemimpin Redaksi Kompas Rikard Bagun. Sedangkan Mukhlis Yusuf didampingi Pemred Antara Saiful Hadi dan anggota Dewan Pengawas Antara Asro Kamal Rokan.
Menurut Jakob, teknologi informasi berkembang sangat cepat, sehingga orang bisa mengakses berita melalui berbagai media, termasuk Internet. Akan tetapi, suratkabar tetap dibutuhkan. "Orang kan harus baca, masak nonton terus," katanya.
Selama suratkabar seperti Kompas tumbuh, katanya, maka ia akan tetap membutuhkan kantor berita. "Kantor berita Antara tetap diperlukan sebagai perbandingan dan pengayaan," katanya.
Dulu, lanjut Jakob, berita Antara merupakan sumber utama untuk dikutip suratkabar.
Berita Antara lebih cepat karena kantor berita nasional itu punya hubungan sangat dekat dengan narasumber yang umumnya para pejabat.
Sekarang, katanya, zaman sudah berubah dan media pelanggan Antara memiliki sumberdaya manusia dan peralatan yang memungkinkan juga bisa lebih cepat dalam laporannya.
"Tapi kami masih membutuhkan Antara untuk perbandingan dan pengayaan. Satu dua juga untuk pengutipan. Antara harus mencari celah-celah berita yang tidak dibuat oleh wartawan surat kabar," katanya.
Salah satu berita yang diperlukan pelanggan seperti Kompas adalah berita-berita daerah. Jaringan Antara di daerah diakui lebih kuat dari Kompas.
Sebagai contoh Kompas tidak memiliki wartawan di daerah Madura. Berita-berita dari daerah itu diliput oleh wartawan Kompas dari Surabaya.
"Setiap daerah punya permasalahannya sendiri. Gali itu. Angkat figur-figur di daerah, persoalan otonomi dan perbatasan. Koran tidak punya koresponden di setiap daerah seperti Antara," lanjutnya lagi.
Menjawab pertanyaan apa kiatnya sehingga Kompas bisa eksis selama puluhan tahun, Jakob mengatakan, karena mengusung masalah kemanusiaan, ke-Indonesia-an dan keimanan.
"Dengan senantiasa bersyukur atas berkah yang sudah didapat, rendah hati, jujur dan memelihara keimanan yang teguh kepada sang Maha Pencipta, dari latar belakang agama manapun, maka kita akan menemukan jalan menyatukan pluralitas serta menggerakkan sinergi," kata Jakob Oetama. (ANTARA)
Pewarta :
Editor : Jo Seng Bie
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
BPGN Natuna fasilitasi para komunitas untuk mengenal sejarah dan geosite
05 July 2025 17:24 WIB, 2025
Wartawan Kompas laporkan tindakan kekerasan saat liputan demonstrasi di Bandung
23 March 2025 8:12 WIB, 2025
Survei Kompas: Paslon Prabowo-Gibran unggul, tetapi pilpres tak satu putaran
11 December 2023 14:44 WIB, 2023
Indonesia siapkan pilot project transisi energi saat Presidensi G20
18 November 2021 11:55 WIB, 2021
Terpopuler - Hiburan
Lihat Juga
Efek Rumah Kaca rilis lagu "Matilah Kau Mati" isi soundtrack film Laut Bercerita
31 July 2026 17:08 WIB
Alan Ritchson, Agnez Mo, dan Anggun mewakili tim serial "Reacher" di serial Comic-Con
27 July 2026 16:41 WIB