Istanbul (ANTARA) - Komisi Eropa pada Selasa (14/10), mendenda merek fesyen mewah Gucci, Chloe, dan Loewe sebesar total 157 juta euro (sekitar Rp3 triliun) karena melanggar aturan persaingan dengan menetapkan harga berdasarkan kesepakatan.

Komisi Eropa mengatakan bahwa penyelidikannya mengungkapkan bahwa ketiga perusahaan tersebut "membatasi kemampuan peritel pihak ketiga independen yang bekerja sama dengan mereka untuk menetapkan harga eceran daring dan luring mereka sendiri."

Penyesuaian harga yang dinegosiasikan tersebut meningkatkan harga dan mengurangi pilihan konsumen, dan hal ini merupakan anti-persaingan.

Mencatat bahwa perusahaan-perusahaan fesyen tersebut terlibat dalam praktik yang disebut penetapan harga jual kembali, Komisi mengatakan bahwa praktik-praktik itu mengganggu strategi komersial peritel dengan memberlakukan berbagai pembatasan.

"Gucci, Chloe, dan Loewe berupaya agar peritel mereka menerapkan harga dan ketentuan penjualan yang sama dengan yang mereka terapkan di saluran penjualan langsung mereka sendiri," katanya.

Gucci didenda 119,67 juta euro (sekitar Rp2,3 triliun), Chloe didenda 19,69 juta euro (sekitar Rp379,2 miliar), dan Loewe didenda 18 juta euro (sekitar Rp346,6 miliar).

Sumber: Anadolu

Baca selanjutnya,
Bos Uniqlo ungkap pengalaman perluas cakupan bisnis ritel pakaian...


President and CEO Fast Retailing, perusahaan induk dari jenama pakaian Uniqlo, Tadashi Yanai mengungkapkan, sejumlah pengalaman dan upayanya untuk memperluas bisnis, sehingga menjadikan perusahaan ritel pakaian yang dipimpinnya menjadi nomor tiga terbesar di dunia.

Dirinya dalam acara Forbes Global CEO Conference di Jakarta, Rabu mengungkapkan, pengalaman tersebut antara lain kerugian di pasar Inggris dan China, serta berkolaborasi dengan desainer terkemuka global.

Tadashi menegaskan, untuk memperkuat cakupan bisnis secara global, perlu adanya pembelajaran lewat kegagalan yang dibuat, mengatur harga jual yang tepat di suatu negara, serta memperkuat kolaborasi untuk menggaet pelanggan.

Disampaikan Tadashi ketika ekspansi ke pasar Inggris, perusahaan mengalami kerugian hingga 120 juta dolar AS atau sekitar Rp1,9 triliun, karena tak berfokus membuka gerai ritel.

"Kita menempatkan 21 gerai, dan berakhir dengan saya menutup 16 gerainya," ucap Tadashi.

Pengalaman selanjutnya berasal dari pasar China. Sebelum menikmati keberhasilan di pasar negara tersebut, ia menyampaikan perusahaannya sempat gagal karena menjual pakaian dengan harga yang murah. Padahal dari pandangan masyarakat China harga barang menentukan kualitas.

"Kami mulai menawarkan pakaian yang murah," kata dia.

"Tapi, itu adalah kesalahan. Karena orang China selalu percaya bahwa harga mencerminkan kualitas," ucap Tadashi lagi.

Dari kegagalan tersebut dikatakannya dirinya belajar untuk menjadi sukses, sehingga berhasil melakukan ekspansi ke Korea, Indonesia, Vietnam dan Singapura.

Selanjutnya dirinya juga melakukan kolaborasi dengan desainer terkenal dunia, Jill Sander yang berhasil membawa kesuksesan penjualan produknya.

Mengutip dari laman resmi Fast Retailing, Uniqlo internasional pada periode September 2024 hingga Agustus 2025 memperoleh pendapatan 1,9102 triliun yen atau sekitar Rp210 triliun.

Angka tersebut naik 11,6 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya, dengan keuntungan bisnis mencapai 305,3 miliar yen atau Rp33 triliun.
 

 



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: UE denda Gucci, Chloe, Loewe Rp3 triliun atas praktik anti persaingan

Pewarta : Cindy Frishanti Octavia
Editor : Nadilla
Copyright © ANTARA 2026