Batam (ANTARA) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri), mencatat 20 pasien yang mengikuti Cek Kesehatan Gratis (CKG) di 2025 dirujuk ke fasilitas kesehatan lanjutan setelah ditemukan indikasi penyakit yang memerlukan penanganan lebih lanjut.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Batam Meldasari mengatakan rujukan diberikan berdasarkan temuan medis saat pemeriksaan.

“Rujukan dilakukan karena ditemukan kondisi kesehatan tertentu yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan atau penanganan yang tidak bisa dilakukan saat lagi CKG,” ujarnya saat dihubungi di Batam, Kamis.

Jenis rujukan yang diberikan mencakup berbagai kasus. Adapun beberapa kasus yang ditemukan seperti tumor jinak pada payudara dan Fibroadenoma Mammae pada payudara dengan masing-masing satu kasus.

Lalu temukan tiga kasus polip pada uteri, empat kasus Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) positif, dan dan satu dugaan kanker serviks.

Selain itu ditemukan pula sifilis satu kasus, ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), dan keterlambatan bicara satu kasus, serta sejumlah gangguan jantung.

Terdapat total tujuh rujukan yang berhubungan dengan jantung, yang terdiri dari AV block derajat tertentu, kelainan jantung, pembengkakan jantung, EKG ST elevasi, dan bradikardia.

“Ini mengapa CKG penting untuk melakukan skrining kesehatan pada masyarakat dan mendeteksi dini penyakit,” kata dia.

Program CKG di Kota Batam telah berjalan hampir satu tahun dan menyasar seluruh kelompok usia. Dinkes Batam menentukan jumlah sasaran CKG mencapai 1.276.930 orang atau mendekati total populasi Batam.

Dari jumlah tersebut, pendaftar melalui aplikasi ASIK tercatat sebanyak 203.874 orang atau sekitar 15,96 persen, dengan tingkat kehadiran mencapai 156.465 orang atau 76,69 persen.

Selain itu, katadia, sebanyak 111.851 orang mengikuti pemeriksaan melalui pendaftaran manual.

Berdasarkan kelompok usia, lanjutnya, peserta Program CKG terbanyak berasal dari anak usia 7-12 tahun, seiring pelaksanaan pemeriksaan kesehatan di sekolah-sekolah, disusul kelompok usia 13-15 tahun dan 16-17 tahun.


Pewarta : Amandine Nadja
Editor : Yuniati Jannatun Naim
Copyright © ANTARA 2026