Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan pemerintah belum akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di tengah lonjakan harga minyak dunia imbas ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Menurut dia, pemerintah masih memantau perkembangan konflik di kawasan tersebut dan dampaknya terhadap harga minyak mentah dunia sebelum mengambil langkah kebijakan lebih lanjut.
"Belum (menaikkan harga BBM subsidi). Kan (asumsi makro) APBN kita kemarin di 70 dolar AS per barel (ICP). Jadi kita tunggu saja," kata dia saat ditemui di Jakarta, Kamis.
Airlangga menerangkan pemerintah saat ini tengah menyiapkan sejumlah skenario untuk mengantisipasi kemungkinan dampak berkepanjangan dari konflik tersebut.
"Sampai kapan, ya perang bisa 3 bulan, bisa 6 bulan, bisa lebih. Jadi kita masing-masing (menyiapkan) ada skenario," ujarnya.
Baca juga: 30 WNI tertahan di Abu Dhabi berhasil pulang lewat jalur penerbangan repatriasi
Adapun pakar energi dari Universitas Padjadjaran Yayan Satyakti memprediksi harga minyak dunia berpotensi melonjak hingga 100 dolar AS per barel dari kisaran sekitar 72 dolar AS per barel apabila terjadi penutupan Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan jalur laut strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman, berada di antara Oman dan Iran, serta menjadi rute utama perdagangan energi global.
Melalui selat ini mengalir sekitar seperlima dari total ekspor minyak dunia, termasuk sebagian besar minyak dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak sebelum dikirim ke pasar internasional.
Ia menambahkan lonjakan harga BBM berpotensi berdampak pada Indonesia yang masih mengimpor sebagian kebutuhan minyak dari kawasan Timur Tengah. Bahkan tanpa penutupan Selat Hormuz sekalipun, konflik yang berlangsung saat ini dapat mendorong kenaikan harga minyak sekitar 10-25 persen.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Airlangga pastikan belum ada rencana kenaikan harga BBM subsidi