Karimun (Antaranews Kepri) - PT Timah Tbk kembali membuka kelas beasiswa di sekolah unggulan SMAN 1 Pemali, Bangka, Bangka Belitung, untuk siswa tamatan SMP yang berprestasi tapi berasal dari keluarga tidak mampu.

Kepala Unit Metalurgi PT Timah Persero Wilayah Operasi Kepri dan Riau Wiyono di Tanjung Balai Karimun, Rabu, mengatakan, kelas beasiswa kembali dibuka untuk tahun ajaran 2018-2019 untuk 36 siswa dari keluarga tidak mampu.

"Untuk Karimun, tahun ini kami menerima empat siswa untuk kelas beasiswa di SMAN 1 Pemali, Bangka. Kalau tahun lalu, untuk Karimun tiga orang," kata Wiyono dalam sosialisasi Program Kelas Beasiswa PT Timah Tbk di Gedung Nasional, Tanjung Balai Karimun.

Sisanya, kata dia, sebanyak 32 siswa dijatah untuk wilayah operasi PT Timah di Kepulauan Bangka dan Belitung.

Program Kelas Beasiswa, menurut dia, dibiayai dengan dana tanggung jawab sosial perusahaan atau "corporate social responsibility" (CSR) untuk pendidikan, dan dimulai sejak 2010.

Para siswa, kata dia, sepenuhnya dibiayai oleh PT Timah untuk mengenyam pendidikan SMA di sekolah binaan PT Timah, SMAN 1 Pemali. Mereka akan tinggal di asrama yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang.

"Program ini merupakan salah satu kontribusi kepada masyarakat yang berada dalam wilayah operasi PT Timah," kata dia.

Acara yang dihadiri oleh ratusan siswa, orang tua dan kepala sekolah tersebut, menurut dia, merupakan kegiatan sosialisasi Program Kelas Beasiswa.

"Kita berharap para orang tua maupun sekolah mengirimkan anaknya yang tentunya melalui seleksi terlebih dahulu, sebelum dinyatakan memenuhi syarat untuk mengikuti Program Kelas Beasiswa," tuturnya.


Baca juga: Timah kirim pengrajin Karimun ikuti pelatihan pewter

Pada kesempatan sama, Wakil Kepala Sekolah Urusan Kurikulum SMAN 1 Pemali Eka Trimurti menjelaskan sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi siswa untuk mendaftar dalam Program Kelas Beasiswa.

Beberapa persyaratan tersebut, menurut dia, antara lain siswa harus benar-benar dari kalangan tidak mampu, yang dibuktikan dengan Kartu Indonesia Pintar (KIP) atau PIP, atau surat keterangan tidak mampu (SKTM).

"Nanti, akan disurvei apakah benar dari kalangan tidak mampu. Karena pernah terjadi, seorang anak petani yang mendaftar, ternyata memiliki ruko dan mobil," kata dia.

Persyaratan lainnya, kata dia, nilai mata pelajaran dalam rapor Program IPA, yaitu IPA, Matematika, Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia minimal 75.

Selanjutnya, mereka akan mengikuti sejumlah tes, antara lain tes tertulis, tes akademik, psikotes dan tes lainnya.


Editor: Nusarina Yuliastuti