Logo Header Antaranews Kepri

Menolak pasrah di tengah wabah

Rabu, 10 Maret 2021 19:50 WIB
Image Print
Aktivitas di Pasar Bintan Centre Tanjungpinang (ANTARA/Nikolas Panama)

Tanjungpinang (ANTARA) - Perayaan hari besar keagamaan tahun 2020 tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Sebagian masyarakat "terkunci" di rumah saat merayakan Idul Fitri, Idul Adha, Natal dan Tahun Baru 2021 dan Imlek 2021.

Perayaan habis besar keagamaan yang meriah pun dibatasi, meski warga tetap menyediakan kue dan minuman sebagai tradisi tahunan. Ucapan saling memaafkan dengan saudara, tetangga dan teman-teman dilakukan melalui ponsel, pesan singkat atau "video call".

Sikap ini sebagai wujud keinginan mereka agar tidak tertular COVID-19. Mereka pun tidak ingin menulari virus mematikan itu kepada orang lain.

Sekretaris Daerah Kepri Tengku Said Arif Fadillah mengatakan perayaan hari besar keagamaan tidak menimbulkan kasus baru COVID-19. Secara umum, masyarakat Kepri, manaati protokol kesehatan.

Kegiatan keagamaan seperti takbir akbar tidak dilaksanakan untuk mencegah kerumunan massa. Salat Idul Fitri maupun Salat Idul Adha pun dilaksanakan secara terbatas.

Kemudian kegiatan keagamaan dalam memperingati Natal dan Tahun Baru 2021 pun dibatasi. Begitu pula dengan perayaan Imlek 2021, tidak dilakukan meriah di tempat umum untuk mencegah kerumunan massa.

Bahkan Imlek 2021 di Tanjungpinang mengobarkan semangat untuk bersama-sama melawan COVID-19.

Satgas Penanganan COVID-19 Kepri tidak menemukan klaster baru yang muncul akibat perayaan hari besar keagamaan. Justru dari data menunjukkan bahwa saat perayaan Imlek 2021, jumlah pasien COVID-19 berkurang.

Penyelenggaraan pilkada serentak di Kepri tahun 2021 pun berlangsung maksimal. Ketaatan penyelenggara pemilu dan pemilih dalam melaksanakan protokol kesehatan membuahkan hasil yang positif. Pilkada juga tidak menimbulkan klaster baru COVID-19.

Apresiasi patut diberikan kepada tokoh masyarakat dan tokoh agama yang turut serta mendorong masyarakat untuk menaati protokol kesehatan.

Fasilitas

Pemerintah Kepri mendorong pemerintah kabupaten dan kota untuk konsisten menangani COVID-19. Kebijakan dalam mencegah kerumunan orang harus dilaksanakan secara serius.

Gubernur Kepri Ansar Ahmad menegaskan penyediaan sarana air bersih dan sabun di ruang publik seperti pasar dan swalayan juga harus dipastikan.

Infrastruktur, fasilitas dan peralatan kesehatan, serta tenaga medis perlu terus ditingkatkan. Seluruh pasien COVID-19 harus mendapat perhatian, terutama terhadap pasien yang dirawat. Tenaga kesehatan juga harus memastikan seluruh pasien COVID-19 yang melakukan isolasi mandiri dalam kondisi baik hingga sembuh.

Di sektor kesehatan, pemprov juga terus berbenah, memberi pelayanan yang maksimal kepada masyarakat, terutama terhadap pasien COVID-19.

Pemerintah Kepri serta pemerintah kabupaten dan kota juga memberikan stimulus atau bantuan sosial terhadap warga yang terdampak selama pandemi COVID-19.

Sekda Kepri Tengku Said Arif Fadillah mengatakan pemda telah memberikan bantuan berupa sembako dan masker kepada masyarakat yang terdampak pandemi COVID-19.

Pemerintah Singapura juga memberi bantuan peralatan medis seperti mesin PCR dan masker untuk masyarakat Kepri. Pemerintah pusat juga sudah memberi bantuan untuk masyarakat Kepri yang terdampak pandemi COVID-19.

Arif yang juga Ketua Harian Satgas COVID-19 Kepri mengatakan perhatian sejumlah pengusaha juga sangat besar dalam menangani dampak pandemi COVID-19. Pengusaha ada yang menyumbang masker, cairan pembersih tangan, sembako dan alat pelindung diri.

Nol Kasus

Awal tahun 2021, kondisi Kepri semakin membaik seiring dengan penurunan jumlah kasus aktif COVID-19. Satuan Tugas Penanganan COVID-19 menetapkan seluruh wilayah Kepri sebagai Zona Kuning.

Kabupaten Lingga dan Kepulauan Anambas bertahan nol kasus aktif COVID-19 sejak sepekan lalu.

Kasus aktif di dua daerah lainnya, Natuna dan Karimun, juga sedikit. Di Natuna, kasus aktif tinggal dua kasus aktif, sedangkan di Karimun hanya tiga kasus aktif.

Sementara kasus aktif COVID-19 di Tanjungpinang sebanyak 33 orang, Bintan 35 orang, dan Batam mencapai 85 orang.

Tujuh kabupaten dan kota ditetapkan sebagai Zona Kuning atau resiko penularan yang rendah.

Jumlah kasus aktif COVID-19 di wilayah itu dalam sebulan terakhir turun drastis. Saat ini, kasus aktif di Kepri tinggal 158 orang.

Jumlah pasien COVID-19 di Kepri hari ini bertambah 17 orang sehingga total jumlahnya sejak pandemi Maret 2020 sampai sekarang menjadi 8.802 orang.

Total jumlah pasien di Kepri sejak Maret 2020 sampai sekarang tersebar di Batam sebanyak 6018 orang, Tanjungpinang 1416 orang, Bintan 695 orang, Karimun 423 orang, Lingga 55 orang, Natuna 92 orang dan Anambas 103 orang.

Jumlah pasien yang sembuh dari COVID-19 bertambah 10 orang di Batam sehingga total pasien yang sembuh di Kepri menjadi 8423 orang.

Pasien yang sembuh di Kepri tersebar di Batam 5781 orang, Tanjungpinang 1.355 orang, Bintan 643 orang, Karimun 402 orang, Lingga 52 orang, Natuna 88 orang dan Kepulauan Anambas 102 orang.

Jumlah pasien yang meninggal dunia akibat COVID-19 sebanyak 221 orang, yang terdiri dari Tanjungpinang 28 orang, Batam 152 orang, Karimun 18 orang, Bintan 17 orang, Lingga tiga orang, Natuna dua orang dan Anambas satu orang.

Barongsai

Pandemi COVID-19 telah mematikan sektor pariwisata di Kepri. Jumlah wisman yang berkunjung ke Kepri nol selama pandemi COVID-19 tahun 2020.

Pandemi COVID-19 mengubah pariwisata di Kepri yang sebelumnya ramai dikunjungi wisman menjadi sepi pengunjung.

Jumlah wisman ke Kepri sebelum pandemi COVID-19 terbanyak ketiga di Indonesia.

Sejumlah perusahaan yang bergerak di bidang pariwisata seperti di Lagoi, kawasan pariwisata berskala internasional di Bintan, gulung tikar. Ribuan karyawan hotel dan restoran di Bintan, Batam, Karimun dan Tanjungpinang terpaksa diberhentikan dan dirumahkan.

"Kami berharap tahun ini pariwisata Kepri mulai bangkit," ucap Kepala Dinas Pariwisata Kepri Buralimar.

Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau pun menyelenggarakan Festival Barongsai di Mal Grand Batam pada Maret 2021 sebagai pertanda pariwisata di wilayah tersebut mulai bangkit setelah terpuruk setahun akibat pandemi COVID-19.

Festival Barongsai merupakan kegiatan pariwisata pertama sejak mulai pandemi COVID-19 hingga sekarang. Festival Barongsai tersebut didukung Federasi Olahraga Barongsai Indonesia Kepri.

"Pariwisata Kepri harus bangkit setelah seluruh kegiatan pariwisata tidak dapat dilaksanakan karena pandemi COVID-19. Kegiatan perdana pariwisata pada Maret 2021 untuk menunjukkan kepada wisatawan asing bahwa Kepri sudah mulai aman dari COVID-19," kata Buralimar.

Dalam tiga minggu terakhir, jumlah kasus aktif COVID-19 terus menurun. Berdasarkan data Satgas Penanganan COVID-19, jumlah kasus aktif COVID-19 tinggal 176 orang.

Terkait Festival Barongsai di Batam dan jumlah kasus aktif COVID-19 di Kepri yang relatif sedikit, diharapkan Singapura membuka pintu keluar-masuk warganya untuk menikmati keindahan alam di Batam dan Bintan.

Warga Singapura merupakan wisman yang paling banyak berkunjung ke Kepri sebelum pandemi COVID-19.

Sampai saat ini wisman ke Kepri masih nol, namun wisatawan nusantara atau domestik cukup banyak berkunjung ke berbagai objek wisata di Batam dan Bintan.

Kawasan pariwisata di Lagoi, Bintan dan Nongsa, Batam paling siap untuk menerima wisatawan mancanegara. Pelaku usaha pariwisata di Bintan dan Batam memiliki komitmen untuk menerapkan protokol kesehatan.

Di Lagoi, pihak pengelola pariwisata menyediakan laboraturium PCR untuk mendeteksi apakah karyawan maupun wisatawan terinfeksi COVID-19 atau tidaktidak.

Singapura telah dua kali membatalkan rencana membuka akses warganya ke Batam dan Bintan. Karena itu, pada Maret 2021 diharapkan akses warga Singapura ke Bintan dan Batam dibuka.

Para pengelola pariwisata di Kepri tentu siap menyambut wisatawan dari dalam dan luar negeri, dengan menerapkan protokol kesehatan.



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026