Menolak pasrah di tengah wabah COVID-19

id Menolak pasrah,COVID-19 di Natuna

Menolak pasrah di tengah wabah COVID-19

Aktivitas pelayaran di Perairan Tarempa, Kabupatwn Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau (Nikolas Panama)

Tanjungpinang (ANTARA) - Hiruk pikuk pemerintah dan masyarakat di Nusantara saat menghadapi COVID-19, mulai Maret 2020 hingga pertengahan Oktober 2020, tidak dirasakan oleh masyarakat Natuna dan Kepulauan Anambas, kabupaten yang berada di utara Provinsi Kepulauan Riau.

Natuna dan Anambas merupakan daerah terdepan Indonesia, yang memiliki banyak pulau yang berbatasan dengan negara tetangga. Alat transportasi laut dan udara yang terbatas menyebabkan keluar-masuk orang dari berbagai daerah di Kepri juga tidak signifikan.

Pandemi COVID-19 tidak menghentikan aktivitas masyarakat pesisir di Natuna dan Anambas, meski sebagian dari mereka tetap menggunakan masker saat ke luar rumah. Pemerintah setempat pun ketat menerapkan protokol kesehatan, terutama di ruang publik, seperti pelabuhan dan pasar, meski kedua daerah yang berbatasan dengan Vietnam dan Kamboja tersebut nol kasus aktif COVID-19 pada periode Maret hingga pertengahan Oktober 2020.

Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Natuna mengonfirmasi kasus pertama COVID-19 pada 18 Oktober 2020 atau setelah hasil pemeriksaan tes usap dengan metode PCR dipublikasi. Z, pasien COVID-19 diduga tertular COVID-19 sebelum saat itu. Z meninggal dunia pada 18 Oktober 2020.

Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Natuna Hikmat Aliansyah menegaskan bahwa pihaknya telah menerapkan protokol kesehatan dalam mengebumikan jenazah Z.

Pemerintah Kabupaten Natuna pun bergegas menerapkan protokol kesehatan setelah menelusuri orang-orang yang kontak erat dengan Z. Sejumlah kasus baru COVID-19 di Natuna bermunculan hingga menimbulkan kepanikan sebagian warga.

Saat itu, kata Asmarullah, seorang warga di Natuna, mengaku takut tertular. Sehingga dan keluarga hanya dia di rumah.

Setelah Natuna "tercemar" virus mematikan itu, giliran Kepulauan Anambas muncul kasus perdana COVID-19 pada 6 November 2020. Satgas COVID-19 Anambas mengkonfirmasi, BN, seorang ASN berusia 37 tahun terinfeksi virus corona jenis baru itu.

Pasien COVID-19 itu sempat dirawat di RSUD Tarempa, kata Ketua Harian Satgas Percepatan Penanganan COVID-19 Anambas Sahtiar.

Penelusuran terhadap orang-orang yang kontak erat dengan BN pun dilakukan. Pasien itu sempat melakukan perjalanan dinas bersama 10 anggota Satuan Polisi Pamong Praja dari Tarempa di Anambas menuju ke Ranai di Natuna menggunakan KM Bukit Raya pada 25 Oktober 2020.

Pegawai pemerintah itu pada siang 1 November 2020 menjenguk saudara perempuannya yang melahirkan di RSUD Natuna sekira pukul 13.00 WIB hingga pukul 19.00 WIB dan kembali ke Tarempa bersama anggota Satuan Polisi Pamong Praja pada 2 November 2020 menggunakan KM Bukit Raya.

Setelah pulang, kata Sahtiar, BN mengeluhkan batuk dan pilek. Kemudian dilakukan dua kali tes usap dengan hasil positif COVID-19.


Zona Kuning

Jumlah pasien COVID-19 di Kepri pada Maret-Desember 2020 meningkat drastis. Satgas Penanganan COVID-19 rata-rata mencatat puluhan kasus baru COVID-19.

Jumlah pasien COVID-19 terbanyak di Batam. Namun awal Tahun 2021, kondisi perlahan-lahan berubah. Jumlah pasien COVID-19 menurun drastis setelah ratusan pasien dinyatakan sembuh.

Tiga hari lalu, Satgas Penanganan COVID-19 pun menetapkan Provinsi Kepulauan Riau sebagai zona kuning penularan COVID-19 setelah jumlah kasus aktif turun drastis dalam sebulan terakhir.

Ketua Harian Satgas Penanganan COVID-19 Kepri Tengku Said Arif Fadillah mengatakan Natuna, Anambas dan Lingga, sejak Februari 2021 ditetapkan sebagai zona kuning dengan risiko penularan kecil, kemudian awal Maret 2021 menyusul Karimun, Bintan, Tanjungpinang dan Batam, yang sebelumnya zona oranye atau risiko penularan sedang.

"Alhamdulillah, seluruh kabupaten dan kota di Kepri ditetapkan sebagai daerah dengan resiko penularan rendah," ujar Sekda Kepri itu.

Arif menjelaskan jumlah kasus aktif COVID-19 di wilayah itu tinggal 153 orang. Kasus aktif COVID-19 di wilayah tersebut tersebar di Batam 81 orang, Tanjungpinang 28 orang, Bintan 40 orang, Karimun dua orang, dan Natuna dua orang, sedangkan Kepulauan Anambas dan Lingga nol kasus aktif COVID-19.

Jumlah pasien COVID-19 di Kepri pada Senin (8/3) bertambah 13 orang sehingga total jumlahnya sejak pandemi Maret 2020 sampai saat ini menjadi 8.772 orang. Tambahan pasien itu terjadi di Batam delapan orang, Tanjungpinang empat orang, Bintan satu orang.

Dengan demikian, tidak ada penambahan pasien di Karimun, Natuna, Anambas dan Lingga.

Total jumlah pasien di Kepri sejak Maret 2020 sampai sekarang tersebar di Batam sebanyak 5.998 orang, Tanjungpinang 1.409 orang, Bintan 693 orang, Karimun 422 orang, Lingga 55 orang, Natuna 92 orang dan Anambas 103 orang.

Jumlah pasien yang sembuh dari COVID-19 bertambah 11 orang sehingga menjadi 8.398 orang, yang terdiri dari Batam tiga orang sehingga menjadi 5.765 orang, Tanjungpinang satu orang sehingga menjadi 1.353 orang, dan Bintan tujuh orang sehingga menjadi 636 orang.

Total pasien yang sembuh dari COVID-19 di Karimun 402 orang, Lingga 52 orang, Natuna 88 orang, dan Anambas 102 orang.

Jumlah pasien yang meninggal dunia akibat COVID-19 sebanyak 221 orang, yang terdiri dari Tanjungpinang 28 orang, Batam 152 orang, Karimun 18 orang, Bintan 17 orang, Lingga tiga orang, Natuna dua orang dan Anambas satu orang.


Vaksinasi

Pemerintah Kepri menggelar vaksinasi untuk mencegah penularan COVID-19.

"Vaksinasi akan memberi dampak positif kepada masyarakat dan pemerintah. Kita akan semakin percaya diri," ucap Gubernur Kepri Ansar Ahmad.

Satgas Penanganan COVID-19 Kepri mencatat hingga akhir Februari 2021, sebanyak 14.662 orang atau 82,9 persen tenaga kesehatan di wilayah itu sudah disuntik Vaksin Sinovac dosis pertama untuk mencegah penularan COVID-19.

Ketua Harian Satgas Penanganan COVID-19 Kepri Tengku Said Arif Fadillah mengatakan sebanyak 14.662 orang atau 82 persen tenaga kesehatan sudah disuntik vaksin.

Ia merinci, tenaga kesehatan yang sudah divaksinasi dosis pertama di Kepri tersebar di Tanjungpinang 2.550 orang, Batam 6.389 orang, Bintan 1.298 orang, Karimun 1.665 orang, Lingga 952 orang, Natuna 1.052 orang, dan Kepulauan Anambas 756 orang.

Sementara tenaga kesehatan yang batal disuntik vaksin dosis pertama karena penyakit tertentu sebanyak 312 orang di Tanjungpinang, 1.215 orang di Batam, 301 orang di Bintan, 458 orang di Karimun, 99 orang di Lingga, 317 orang di Natuna dan 119 di Anambas.

Vaksinasi tidak dapat dilakukan terhadap orang dalam kondisi hamil atau menyusui, hipertensi, memiliki riwayat alergi berat, autoimun, kanker, HIV, diabetes, dan sakit jantung.

Sementara tenaga kesehatan di Kepri yang sudah menjalani vaksinasi tahap kedua sebanyak 12.205 orang atau 83,2 persen, tersebar di Tanjungpinang 2.159 orang, Batam 5.325 orang, Bintan 1.112 orang, Karimun 1.215 orang, Lingga 928 orang, Natuna 805 orang, dan Anambas 661 orang.

Sementara tenaga kesehatan yang batal disuntik vaksin tahap kedua di Tanjungpinang sebanyak 11 orang, Batam 221 orang, Bintan lima orang, Karimun satu orang, Lingga dua orang, Natuna dua orang, dan Anambas satu orang.

Semua pihak berharap vaksin segera didistribusikan oleh Kemenkes ke Kepri sehingga vaksinasi berjalan maksimal.
Pewarta :
Editor: Nurjali
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar