
77 Warga Karimun Terkena Demam Berdarah

Karimun (ANTARA News) - Sebanyak 77 warga di Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau terkena wabah demam berdarah dengue (DBD) selama periode Januari-Juli.
"Kasus demam berdarah dengue sejak Januari mencapai 77 orang," kata Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Menular Dinas Kesehatan Karimun, Rachmadi, di Tanjung Balai Karimun, Selasa.
Ia menjelaskan sebagian besar penderita DBD tersebar di tiga kecamatan Pulau Karimun, yaitu Tanjung Balai Karimun, Meral, dan Tebing.
"Sebagian kecil kasus DBD ditemukan di Kundur dan Moro. Umumnya kasus DBD dialami anak-anak," katanya.
Dia mengatakan penularan penyakit yang disebarkan nyamuk "aedes aegypti" itu terbilang tinggi karena sejak dua bulan terakhir tingkat curah hujan cukup tinggi.
"Pekan lalu saja, ada lima warga positif DBD, kelimanya berada di Tanjung Balai Karimun," katanya.
Ia khawatir jika warga tidak proaktif memberantas sarang nyamuk, maka kasus DBD akan bertambah menjelang akhir tahun.
"Kami berharap warga berkesadaran tinggi mencegah perkembangbiakan nyamuk. Kalau tidak, jumlah penderita akan melonjak dan bisa melebihi 2009 yang mencapai 143 kasus," katanya.
Sebagai daerah endemis, Pulau Karimun Besar dan Kundur setiap tahun terdapat kasus penyakit yang diawali demam tinggi itu.
"Gerakan 3M, yaitu mengubur, menutup dan menguras wadah yang mudah tergenang air paling efektif dalam menekan penularan wabah itu," ucapnya.
Dia menyarankan warga agar rutin menguras bak mandi sekali dalam sepekan untuk mencegah perkembangbiakan nyamuk penyebar vektor penularan DBD itu.
"Jika bak mandi kita kuras sekali dalam sepekan, peluang telur nyamuk menjadi jentik kecil karena biasanya membutuhkan waktu lima belas hari," katanya.
Selain itu, gerakan abatisasi atau menabur bubuk abate di bak mandi harus digencarkan untuk membasmi jentik sebelum menjadi nyamuk dewasa.
"Warga kami imbau agar memeriksa lingkungannya terhadap wadah-wadah yang dapat menampung air hujan. Jika ditemukan, segera dikuburkan," ucapnya.
Ia mengajak warga untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap wabah tersebut, mengingat tingginya curah hujan sejak dua bulan terakhir.
"Kegiatan pengasapan atau fogging bukanlah cara yang efektif dalam mencegah DBD. Fogging dilakukan setelah ada temuan kasus dan itupun hanya membunuh nyamuk dewasa," tuturnya.
Partisipasi warga dalam memberantas sarang nyamuk diharapkan dapat menghindari peristiwa pada 2008, karena saat itu diberlakukan status kejadian luar biasa untuk DBD dengan jumlah penderita sebanyak 219 orang.
"Setiap ada gejala demam panas tinggi yang diiringi bintik merah di kulit, ya segera periksakan ke dokter. Jangan menunggu dua hingga tiga hari karena bisa berakibat fatal," tandasnya. (Btm1)
Pewarta :
Editor:
Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
