
TKW Bantah Pemerintah Malaysia Kejam

Tanjungpinang (ANTARA News) - Beberapa tenaga kerja wanita bermasalah yang diusir dari Malaysia ke Indonesia melalui Tanjungpinang membantah pernyataan bahwa pemerintah Malaysia bersikap kejam ketika mereka menjalani masa hukuman penjara.
Rini, 36 tahun, tenaga kerja wanita (TKW) asal Surabaya yang dideportasi dari Malaysia ke Tanjungpinang, Sabtu 28 Agustus 2010, mengatakan, Pemerintah Malaysia memperlakukan TKI bermasalah yang ditahan di penampungan Pekan Nenas, Selangor, secara manusiawi.
"Rombongan kami tidak ada yang mendapat perlakuan yang tidak baik oleh petugas di penampungan Pekan Nenas," kata Rini yang memiliki seorang bayi.
Hal senada disampaikan Noviana, 29 tahun, warga Surabaya yang tinggal selama dua tahun secara ilegal di Malaysia karena mengikuti suaminya.
Pemerintah Malaysia, katanya, memperhatikan kondisi kesehatan, tempat istirahat, makan dan air bersih untuk TKI yang ditampung di Pekan Nenas.
"Bahkan bayi kami diberikan makanan khusus dan pembalut," katanya sambil menggendong bayinya.
Noviani menyatakan, cerita tentang TKW diperlakukan tidak manusiawi hanya isapan jempol.
Petugas yang menjaga di Pekan Nenas tidak pernah bersikap kasar, apalagi menelanjangi TKW sebelum masuk di penampungan tersebut.
"Isu itu bohong, karena sebenarnya kami diperlakukan secara baik selama dua bulan berada di Pekan Nenas," ungkapnya.
Sementara Tini, 26 tahun, menyatakan, aparat yang bertugas menjaga Pekan Nenas tidak ringan tangan, sebagaimana selentingan yang tersebar selama ini. Mereka hanya menjaga keamanan sekitar Pekan Nenas.
"Bagi kami kalau masalah makanan yang sederhana itu merupakan hal yang biasa, tetapi itu lebih baik karena kami berstatus sebagai tahanan," kata Tini yang juga berasal dari Surabaya.
Pemerintah Malaysia mengusir sebanyak 137 TKI dari Pelabuhan Pasir Gudang, Johor Bahru, ke Pelabuhan Sri Bintan Pura Tanjungpinang dengan menggunakan Feri Batam Line pada Jumat (27/8-2010). Sebanyak 18 bayi bersama ibunya ikut diusir Pemerintah Malaysia. (NP/Btm1)
Pewarta :
Editor:
Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
