Insiden Pasuruan Tidak Terkait Pandeglang-Temanggung

id insiden, pasuruan, pandeglang, temanggung, rumah, ibadah, pesantren, aswaja,

Surabaya (ANTARA News) - Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Badrodin Haiti membantah ada keterkaitan antara insiden penyerangan Pondok Pesantren Yayasan Pesantren Islam atau Yapi di Pasuruan pada Selasa pekan ini dengan anarkisme di Cikeusik Pandeglang, Banten dan di Temanggung, Jateng.

"Saya tahu, wartawan pasti bertanya, kenapa insiden Pasuruan terjadi dalam selang waktu tidak terlalu lama dari Banten (6/2) dan Jateng (8/2). Karena itu saya lakukan interogasi sendiri kepada korban dan pelaku yang tertangkap. Ternyata kaitan itu tidak ada," katanya di Mapolda Jatim.

Menurut mantan Kepala Divisi Pembinaan Hukum Mabes Polri itu, insiden di Yapi tidak terduga, meski kepolisian sudah mengantisipasi dan bahkan  sudah menempatkanh personel di Pesantren Yapi Putri.

"Kami sudah mengantisipasi kejadian itu, karena semalam sebelumnya sempat ada penyerangan serupa, tapi Pesantren Yapi Putra tidak mau ada polisi berpakaian dinas, sehingga di Pesantren Yapi Putra berpakaian preman, tetapi polisi di Pesantren Yapi Putri tetap berpakaian dinas," katanya.

Jenderal berbintang dua yang kelahiran Jember (Jatim) itu menyatakan sudah menginventarisasi potensi konflik bersumber agama di Jatim, seperti banyaknya aliran (Ahmadiyah, Bahai, Syiah, tokoh yang mengaku nabi/rasul).

"Potensi konflik lainnya yang bersumber agama di Jatim adalah pendirian rumah ibadah, perkawinan campur agama, dan sejumlah kelompok radikal. Untuk menyelesaikan hal itu sebenarnya bukan hanya polisi yang harus bertindak, tapi muara masalah itu memang selalu mengarah ke polisi," katanya.


Kronologi

Dalam kesempatan itu, Kapolda Jatim menguraikan kronologi insiden itu yakni berawal dari pengajian di pesantren asuhan Habib Lutfi di Singosari, Malang yang diikuti jamaah dari Pandaan, Bangil, Pasuruan, dan sebagainya.

"Pengajian yang bermula dari pukul 07.00 WIB itu menghadirkan penceramah Habib Muhdor dari Tanggul, Jember, hingga berakhir sekitar pukul 13.00 WIB, lalu jamaah pun pulang dengan mengendarai sepeda motor secara beramai-ramai," katanya.

Jamaah yang disebut "Jamaah Aswaja" itu melewati Pandaan, Bangil, dan juga di depan Pesantren Yapi, lalu sebagaian anggota jamaah itu berhenti dan mengolok-olok para santri Yapi.

"Olok-olokan bernuansa agama itu dibalas, kemudian anggota Jamaah Aswaja melakukan pelemparan dan dibalas, sehingga mereka pun melakukan penyerangan ke dalam pesantren. Serangan itu dibalas santri dalam jumlah banyak, sehingga terjadi saling serang dan akhirnya jatuh korban luka," katanya.

Hingga kini, katanya, ada tujuh korban luka yakni empat santri Yapi, dua karyawan Yapi, dan seorang korban luka dari Jamaah Aswaja (penyerang).

"Penyerangan itu merusak pos satpam dan ruang terima tamu, tapi penyerangan tidak direncanakan atau dipersiapkan sebelumnya, karena kami menemukan batu bata yang digunakan melempar itu sama dengan batu bata yang ada di pesantren itu," katanya.

Ia menambahkan petugas pun menangkap tiga pelaku, namun hanya dua pelaku yang sudah diperiksa, sedangkan seorang pelaku belum diperiksa, karena masih dirawat di rumah sakit.

"Saya sudah menginterogasi pelaku, apa yang mendorong gerakan penyerangan itu, atau ada perencanaan, ternyata tidak ada perencanaan. Itu spontanitas mirip suporter 'bonek' (bondho nekat). Saya sempat tanyakan motifnya, ternyata mereka hanya terpancing, karena emosi," katanya.
(E011/F002/Btm1)
Editor: Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar