Logo Header Antaranews Kepri

Musik Bambu Meriahkan Cap Go Meh Manado

Kamis, 17 Februari 2011 20:06 WIB
Image Print

Manado (ANTARA News) - Salah satu kesenian lokal Sulawesi Utara musik bambu (klarinet), turut memeriahkan kegiatan ritual "Cap Go Meh" di Manado, Kamis.

Musik bambu yang terdiri atas beberapa tumpukan itu, mengawal jalannya prosesi Cap Go Meh yang dilepas dari Klenteng Ban Hi Kion hingga berakhir di Klenteng Im Tong, Manado.

Iringan musik daerah mengawal terus perjalanan ritual budaya dari etnis China, sehingga suasana prosesi berjalan lancar dan menarik, karena beberapa peragaan dilakukan para "tang sin" sangat luar biasa.

"Ini bentuk kerukunan yang dipatut ditiru di daerah kita. Budaya etnis China dan khas Minahasa dipadukan untuk memeriahkan kegiatan itu," kata Ranny, salah satu warga yang menonton langsung prosesi Cap Go Meh.

Pelaksanaan Cap Go Meh yang mengambil jalur di pusat kota 45 Manado dan berputar mengelilingi Jalan Walanda Maramis, Jalan Panjaitan dan komplek Plaza Manado, sempat diguyur hujan sangat deras.

Namun antusiasme warga menyaksikan ritual yang diikuti ratusan peserta itu tetap berjalan khusyuk dan menarik, karena banyak juga atraksi-atraksi unik dan sulit untuk dicerna akal sehat dilakukan para tang sin dihadapan ribuan masyarakat.

Sementara itu, beberapa toko dan pusat perbelanjaan di pusat kota Manado milik pengusaha keturunan etnis Tionghoa yang dilewati prosesi itu, turut berpartisipasi dengan memajang dupa dan permohonan doa kepada Yang Maha Kuasa, agar kegiatan itu berlangsung sukses.

Sementara itu, anggota DPRD Sulut Benny Ramdhani mengharapkan prosesi Cap Go Meh terus dilestarikan, karena diyakini bisa menjadi aset bidang kepariwisataan.

"Banyak wisatawan tertarik ke Manado untuk menyaksikan Cap Go Meh, karena memang unik dan memiliki tujuan mulia bagi mereka yang meyakininya," jelasnya.

Lembaga wakil rakyat itu siap mendukung kegiatan itu, baik untuk promosi dan sebagainya, sehingga Sulut banyak dikenal luar daerah dan mancanegara dengan berbagai kegiatan ritual.

Kegiatan ritual yang menarik banyak pengunjung itu, sempat membuat arus lalu lintas berubah karena jalur tersebut ditutup oleh pihak kepolisian, sehingga dinilai tidak menganggu jalannya pawai.(H013/A035/Btm2)



Pewarta :
Editor: Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2026