
Gubernur Sani Luncurkan Otobiografi "Untung Sabut"

Batam (ANTARA News) - Gubernur Kepulauan Riau H Muhammad Sani meluncurkan buku otobiografi berjudul "Untung Sabut", penggalan dari peribahasa Melayu "untung sabut timbul, untung batu tenggelam".
"Saya merasa dalam hidup saya dipenuhi keberuntungan sehingga sampai pada posisi sekarang," ujar Sani di Hotel Harmoni One, Batam, Kepulauan Riau, Sabtu (14/5) malam.
Menurut Sani, makna dari judul tersebut ialah tidak ada orang yang dapat menghindar dari takdir, dan manusia mau tidak mau harus akur dengan takdir.
Ia merasa perjalanan hidupnya seperti sabut. "Insya Allah selalu timbul. Selalu ada kasih sayang-Nya kepada saya dan keluarga."
Buku setebal 319 halaman tersebut berisi mengisahkan hidup Sani sejak kecil, ketika masih hidup susah bahkan pernah nyaris putus sekolah. Tetapi, berkat kesungguhan dan kerja keras, Sani bisa sampai pada kursi Gubernur, lewat Pilkada Kepulauan Riau 2010.
Sani lahir dari keluarga tergolong miskin di Parit Mangkil, Desa Sungai Ungar, Tanjungbatu Kuncur, Karimun, Kepulauan Riau pada 11 Mei 1942.
"Untuk membiayai saya di sekolah rakyat (sekarang SD) saja orang tua saya kepayahan. Apalagi saat SMP. Waktu kelas tiga SMP partikelir, saya sempat berhenti karena malu setiap hari ditagih uang sekolah," kata suami dari Hj Aisyah, pasangan yang dikaruniai tiga anak, Herry Andrianto, Henny Andriani dan Riny Fitrianti, serta lima cucu.
Namun, kata Sani, seorang guru ilmu ukur sudut (matematika), Simanjuntak, datang ke rumah dan membujuk supaya sekolah lagi tanpa dipungut biaya. Kala itu SMP partikelir bisa menjadi SMP negeri bila ada siswanya lulus pada ujian akhir.
Harapan sekolah tertumpu pada Sani dan ternyata terbukti dari 28 siswa ujian, hanya ia yang lulus sehingga SMP partikelir pun menjadi SMP negeri dan menempati gedung sekolah yang dibangun pemerintah di Tanjungbatu.
Dari situlah ia merasa banyak keberuntungan yang membawanya hingga menjadi Gubernur Kepulauan Riau.
"Walaupun saya sudah berusia 69 tahun, namun saya beruntung masih diberi 'ujian' menjadi Gubernur. Saya saat ini masih merasa muda," kata Sani, putra kedua dari 10 anak H Subakir dan Hj Tumirah, keluarga pekebun kopi, rambutan dan pinang.
Sani berharap buku tersebut akan memotivasi generasi muda untuk berjuang dan meraih mimpinya.
Ia memberikan sekitar 1.700 buku otobiografinya yang dicetak Gramedia Pustaka Utama kepada hadirin, sahabat-sahabat serta kepada perwakilan pelajar SD, SMP,.SMA dan universitas, dalam acara yang dimeriahkan dengan pembacaan puisi, tembang, dan pertunjukan maestro biola, Idris Sardi.
"Dengan bekerja keras semua dapat tercapai," kata Sani yang setelah lulus SMP pada 1959 ditolong L Utomo, kepala Penjara Pekanbaru dengan memboyong dan memasukkannya ke SMA di ibu kota Riau, Pekabaru, hingga kemudian Sani tinggal di rumah pujangga besar, Soeman Hs hingga tamat SMA.
Ketika muda ia pernah menjadi pembuat amplop dari kertas bekas di kantor Kecamatan Bintan Timur, Kepulauan Riau, tempat ia memulai karier di birokrasi pemerintahan pada 1967-1969.
Sani antara lain adalah Camat Mandau (1973-1976), Kabag Personalia Kantor Wali Kota Pekanbaru (1976-1978), menyelesaikan studi kesarjanaan di Institut Ilmu Pemerintahan, Jakarta (1978-1980) kemudian menjadi Camat Bintan Timur (1980-1982), Wali Kota Tanjungpinang (1985-1993), Sekretaris Daerah Kodya Batam (1996-1999), Bupati Karimun (2001-2005), Wagub Kepri (2005-2010).
Kakek lima cucu itu pernah mengikuti kursus di luar negeri antara lain Techniques in Reinventing Government di Amerika Serikat, Juli-Agustus 1996; Manajemen perkotaan untuk Bupati dan Wali Kota, di Belanda, 1997; serta, Civil Service College di Singapura, 2001.
Rivaie Rahman, seorang sahabatnya, mengakui Sani memang sosok pekerja keras.
"Ia meyakini untuk mencapai sesuatu tidaklah mudah. Dari situlah ia selalu sungguh-sungguh dalam berusaha. Dia berprinsip kalau orang lain bisa, saya juga bisa," katanya.
Acara peluncuran buku tersebut juga dihadiri mantan Menteri Agama Said Agil Al Munawar, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Rokhmin Dahuri, pengusaha Setiawan Jody, serta beberapa pejabat dan mantan pejabat.
(ANT-L/Btm1)
Pewarta :
Editor:
Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2026
