Logo Header Antaranews Kepri

Petani Batam Gagal Panen Sayur

Kamis, 23 Juni 2011 13:46 WIB
Image Print

Batam (ANTARA News) - Petani Batam alami gagal panen sayur, sehingga memicu harga sayur-mayur melonjak hingga 100 persen dalam dua minggu terakhir.

"Petani di Batam gagal panen, sehingga sayuran harus didatangkan dari luar daerah. Akibatanya harga mengalami lonjakan sekitar 100 persen," kata Kepala Dinas kelautan Perikanan Pertanian dan Kehutanan (KP2K) Kota Batam, Suhartini di Batam, Kamis.

Penyebabnya, kata dia, cuaca Batam kurang menentu akhir-akhir ini.

"Cuaca akhir-akhir tidak menentu. Sesaat panas terik kemudian hujan deras dan itu terjadi berulang kali dalam sehari," ucap dia.

Menurut dia, akibat gagal panen semua sayur yang biasa dipasok petani lokal harus di datangkan dari Tanjungpinang yang ada di pulau seberang.

"Harga di sana (Tanjungpinang) sudah mahal, sampai ke Batam makin mahal karena ditambah ongkos kirim," kata dia.

Bila tidak terjadi gagal panen, kata Suhartini, kebutuhan sayur-mayur seperti bayam, kangkung, sawi, tomat, bisa terpenuhi petani Batam.

"Kebutuhan dua ton sayur perhari bisa dipenuhi petani lokal saat mereka panen," ucap dia.

Pedagang sayur-mayur di pasar Tanjungpantun, Batam, Muhajir, mengatakan sekitar dua minggu terakhir harga sayur sangat mahal.

"Semua jenis sayur lokal rata-rata mengalami kenaikan sekitar 100 persen," kata dia.

Sayur jenis sawi yang umumnya dijual Rp8.000 kini mencapai Rp15-16.000/kg, tomat naik dari Rp7.000 menjadi Rp14.000/kg, bayam dari Rp8.000 menjadi Rp14.000/kg, kangkung dari Rp7.000 menjadi Rp14.000/kg.

"Distributor mengaku sayur didatangkan dari Tanjungpinang. Ongkos kirim mahal, jadinya harga melonjak," ucap Muhajir.

Sementara, untuk harga sayur yang didatangkan dari Jawa dan Sumatra (Padang dan Medan) seperti kentang, wortel, kol, cabai, paprika, dan timun harganya cenderung setabil.

"Pasokan dari luar Kepulauan Riau tidak ada masalah. Harganya stabil," tambah Muhajir.(ANT-L/B008/Btm2)

(T.pso-292/B/B008/B008) 23-06-2011 14:52:08




Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026