
Lebaran - Peziarah Padati Pulau Penyengat

Tanjungpinang (ANTARA News) - Ribuan orang peziarah memadati situs peninggalan sejarah Pusat Kerajaan Melayu Riau-Lingga di Pulau Penyengat, Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau memasuki libur ketiga Idul Fitri 1432 Hijriah, Jumat.
Peziarah berasal dari sejumlah daerah dalam dan luar Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) serta dari Malaysia dan Singapura.
Kepadatan peziarah terutama berlangsung sejak pagi hingga siang menjelang waktu shalat Jumat mulai dari pelabuhan di depan pelabuhan Internasional Sri Bintan Pura Tanjungpinang hingga pelabuhan di dermaga Pulau Penyengat.
"Kami ingin melaksanakan shalat Jumat di Masjid Sultan Riau Penyengat sehingga datang lebih awal," ujar Syaiful peziarah dari Tanjungpinang.
Membludaknya peziarah ke Masjid Sultan Riau serta makam-makam raja di Pulau Penyengat, sempat menyebabkan penumpukan penumpang yang antre pompong (kapal kayu kecil) di pelabuhan.
Namun seluruh penumpang dapat terangkut oleh puluhan pompong yang menempuh perjalanan 10-15 menit ke Pulau Penyengat.
Usai melaksanakan shalat Jumat berjamaah, peziarah mulai berdesakan menuju beberapa makam raja seperti makam Raja Ali Haji pengarang Gurindam 12 yang juga merupakan Pahlawan Nasional.
Peziarah juga ramai ke makam Raja Hamidah, Raja Haji Fisabilillah, Raja Ja'far dan sejumlah situs peninggalan sejarah kebesaran Kerajaan Riau-Lingga.
Pengurus Masjid Sultan Riau, Abu Zainal mengatakan, membludaknya peziarah di Pulau Penyengat biasa terjadi setiap hari-hari besar Islam seperti Idul Fitri dan Lebaran Haji.
"Setiap hari besar Islam selalu dipenuhi peziarah, mereka datang bukan hanya dari Kepri atau luar daerah, tetapi juga datang dari Malaysia dan Singapura," ujar Abu.
Abu mengatakan, bukan hanya hari besar Islam, Masjid Sultan Riau selalu dipenuhi pada saat shalat Jumat yang jamaahnya berasal dari Tanjungpinang dan daerah sekitar.
Masjid Sultan Riau di Pulau Penyengat dibangun pada 1803 Masehi pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Syah dan direnovasi oleh Yang Dipertuan Muda Riau VII Raja Abdul Rahman pada 1832 Masehi.
Masjid Raya Sultan Riau masih asli. Belum pernah dipugar total sejak didirikan.
Bangunan itu bertembok tebal tersebut dipercaya sebagian bahan bakunya berasal dari putih telur ayam.
Peninggalan sejarah yang memiliki nilai tinggi juga terdapat di masjid tersebut, antara lain dua buah kitab Alquran tulisan tangan peninggalan tahun 1752 Masehi dan tahun 1867 Masehi.
Kitab Alquran tulisan tangan pada tahun 1752 merupakan karya Abdullah Al Bugisi. Sedang kitab Alquran 1867 merupakan karya Abdurrahman Istambul, putra Riau yang disekolahkan ke Istambul oleh Raja dan menulis Alquran setelah kembali bermukim di Penyengat.
(ANT-HM/A013/Btm1)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
