
Pulau-Pulau Terdepan Kepri Rawan Dicaplok Asing

Tanjungpinang (ANTARA Kepri) - Komisi I DPRD Provinsi Kepulauan Riau menyatakan, pertahanan pulau-pulau terdepan terutama yang tidak berpenghuni di kawasan perbatasan wilayah dengan Malaysia dan Singapura masih lemah sehingga rawan dicaplok negara asing.
"Buktinya, masih sering terjadi pencurian ikan di perairan tersebut," kata Ketua Komisi I DPRD Kepri, Sukhri Fahrial, yang dihubungi dari Tanjungpinang, Selasa.
Sukhri yang diusung Partai Hati Nurani Rakyat menilai, pemerintah kurang memperhatikan permasalahan itu.
Padahal, katanya, permasalahan ketahanan keamanan di wilayah perbatasan Kepri dengan Malaysia dan Singapura sudah sering menjadi isu nasional yang dibahas antarpemerintahan.
"Kami berharap pemerintah segera melakukan aksi yang langsung menyentuh pada sasaran, jangan sibuk melakukan tindakan setelah muncul masalah," katanya.
Pemerintah harus melakukan berbagai upaya untuk mengantisipasi terjadinya permasalahan ketahanan keamanan di kawasan perbatasan.
Upaya mempertahankan 19 pulau terdepan di Kepri tidak cukup hanya dengan dialog antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Malaysia dan Singapura melainkan harus dengan penguatan pertahanan keamanan baik di udara, laut dan darat.
"Untuk mempertahankan pulau terdepan harus dengan aksi yang nyata, seperti memperkuat pertahanan keamanan di wilayah perbatasan, bukan hanya dengan dialog dan musyawarah dengan Pemerintah Malaysia dan Singapura," ungkapnya.
Ia mengatakan, Kepri merupakan salah satu wilayah yang menjadi pintu masuk ke Indonesia. Karena itu, wajar jika pemerintah segera meningkatkan pasukan keamanan di pulau terdepan. Pengamanan yang lemah di pulau-pulau terdepan dapat mengancam stabilitas nasional.
"Pengamanan yang lemah di kawasan perbatasan antara Kepri dengan negara tetangga, Malaysia dan Singapura, membahayakan Indonesia," katanya.
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
