
BI: BPR di Kepri Sehat

Tanjungpinang (ANTARA Kepri) - Bank Indonesia menyatakan, sebanyak 41 bank perkreditan rakyat di Provinsi Kepulauan Riau dalam kondisi sehat dengan kinerja yang baik.
"Kami hanya bisa memeriksa bank perkreditan rakyat (BPR ) satu kali dalam setahun, namun setiap tiga bulan sekali bank tersebut wajib mengumumkan neraca keuangan kepada nasabahnya. Dari pengumuman itu diketahui kinerja BPR baik atau buruk," kata Kepala Seksi Perbankan Bank Indonesia (BI) Batam, Gamal Abdul Kahar, Minggu.
Gamal menyampaikan hal itu dalam pelatihan wartawan ekonomi dan bisnis yang diselenggarakan BI pada Sabtu hingga Minggu (3-4/12) di Tanjungpinang.
"Dalam waktu dekat akan ada satu lagi BPR yang dibuka di Natuna," ungkapnya.
Menurut dia, jumlah BPR di Kepri jauh lebih sedikit dibanding di daerah lainnya di Sumatra dan Pulau Jawa. Namun aset yang dimiliki BPR Kepri jauh lebih besar dibanding BPR di daerah lain di Sumatra dan Pulau Jawa.
Rata-rata nilai aset BPR di Kepri sekitar Rp100 miliar. Bahkan aset di salah satu BPR di Batam mencapai Rp500 miliar, dan telah memiliki fasilitas anjungan tunai mandiri (ATM).
Sementara banyak BPR di wilayah lainnya, seperti Sumatra Barat hanya memiliki aset tidak mencapai Rp1 miliar. Kondisi itu berpotensi menimbulkan permasalahan, apalagi jika BPR tersebut tidak berkembang.
Aset yang dimiliki BPR di Kepri cukup besar, karena itu kondisinya sehat," ungkapnya.
Ia mengungkapkan, BI diberi tugas untuk mengawasi BPR.
Jika terdapat BPR yang bangkrut, yang dicari pertama oleh pemerintah maupun institusi lainnya yang berwenang bukan pemilik BPR, melainkan pihak BI.
"Kami harus menjelaskannya, karena itu pengawasan diperketat, meski pemeriksaan hanya dilakukan dalam satu kali setahun," katanya.
(KR-NP/E010)
Pewarta :
Editor:
Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
