Logo Header Antaranews Kepri

Masyarakat Natuna Andalkan Batu Granit

Senin, 20 Februari 2012 16:05 WIB
Image Print

Natuna (ANTARA Kepri) - Masyarakat Natuna banyak yang mengandalkan batu granit sebagai sumber nafkah keluarga karena melimpahnya hasil alam itu di daerah mereka.

Sehari-hari banyak dijumpai ibu rumah tangga dan kaum laki-laki yang memecah batu granit baik di pakarangan rumah maupun di lahan areal perkebunan masyarakat.

Seperti yang dilakukan Nur (48) seorang ibu rumah rangga warga Desa Limau Manis, Kecamatan Bunguran Timur Laut, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, saat dijumpai ANTARA, di kawasan Wisata Air Terjun Ceruk, Senin, mengatakan telah lama menekuni pekerjaan pemecah batu granit.

Saat dijumpai ia terlihat tekun memilah dan memukul batu-batu granit yang sudah dibakar menjadi serpihan kecil.

"Saya bekerja mengambil upah memukul batu granit ini sudah lama dengan upah Rp2.500 perkaleng," ungkapnya.

Bagi Nur, pekerjaan ini sangat penting guna menopang hidupnya bersama dua anaknya setelah ditinggal begitu saja oleh suaminya sejak tahun 2005.

Pekerjaan mengambil upah ini dilakoninya juga selain memecah batu di tanah pekarangannya sendiri. Di Natuna batu granit banyak bertebaran di tanah-tanah warga, tak terkecuali di tanah Nur.

"Satu minggu bisa mengumpulkan sekitar 50 hingga 60 kaleng yang disebut satu rade yang dihargai Rp500.000 per rade," jelasnya.

Ia mengatakan, ukuran 40 hingga 60 kaleng tersebut dikerjakan berdua bersama temannya, sehingga satu minggu penghasilannya mencapai Rp250.000.

Tak jauh berbeda dengan Nur, Kamaruddin (38) juga bersyukur dengan batu granit yang melimpah di pakarangan rumahnya.

"Batu granit banyak di tanah kami, besar-besar," ujarnya sambil memperlihatkan proses memecah batu yang dimulai dengan proses pembakaran.

Dia menguraikan, batu granit yang keras tersebut mula-mula di bakar agar mudah untuk diretakkan. Sehingga batu granit terbelah untuk kemudian dilinggis dan baru dipalu dijadikan batu untuk pemanfaatan pondasi dan drainase.

Bisnis ini mulai ditekuninya sejak enam tahun terakhir, karena kebutuhan untuk bahan-bahan pondasi dan drainase meningkat di daerahnya. Satu rade dikerjakan bersama istrinya dalam kurun waktu tiga sampai empat hari.

"Untuk keperluan drainase mencapai Rp500.000 per rade lebih mahal dibanding untuk pondasi yang hanya dihargai Rp300.000 per rade," rinci Kamarudin yang juga pegawai Badan Pengawas Desa Limau Manis, Bunguran Timur Laut ini.

Perbedaan harga ini, menurut Kamaruddin dilihat dari ukuran batu granit tersebut. Batu granit untuk pondasi lebih kurang berukuran 12x12 cm, sementara untuk drainase berukuran 57 centimeter.

"Disebut seukuran demikian karena berupa serpihan kecil," katanya.

(KR-RST/E010)



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026