Logo Header Antaranews Kepri

PSSI Kepri: Tidak Ada Dualisme Kepengurusan

Rabu, 7 Maret 2012 18:29 WIB
Image Print

Tanjungpinang (ANTARA Kepri) - Caretaker Ketua PSSI Provinsi Kepulauan Riau, Roma Ardadan, menegaskan saat ini tidak ada dualisme kepengurusan PSSI yang dipimpinnya.

"Penegasan ini untuk meluruskan informasi yang simpang siur di tengah masyarakat pecinta sepak bola setelah dibekukannya kepengurusan PSSI Kepulauan Riau (Kepri) sebelumnya yang dipimpin Endi Maulidi," kata Roma di Tanjungpinang, Rabu.

Ia mengungkapkan, kepengurusan PSSI Kepri belum lama dibekukan oleh PSSI pusat. Kemudian PSSI pusat menetapkan Roma sebagai caretaker Ketua PSSI Kepri.

Dengan pembekuan kepengurusan yang dipimpin Endi Maulidi, maka secara tidak langsung kepengurusannya tidak berlaku lagi. Bahkan, sambungnya, kepengurusan lama yang sudah dibekukan tidak berhak lagi mengatasnamakan PSSI.

Lebih lanjut Roma menjelaskan bahwa dirinya diberikan amanah oleh PSSI Pusat untuk menggelar Musyawarah Daerah Luar Biasa untuk memilih Ketua PSSI Kepri definitif. Selain menggelar Musyarawarah Daerah Luar Biasa, PSSI Pusat juga meminta PSSI Kepri di bawah kepemimpinannya untuk memutar roda kompetisi Divisi III sesegera mungkin.

Menanggapi rencana Endi Maulidi yang akan menggelar kompetisi Divisi III, Roma mengatakan hal tersebut sangat disesalkannya. Sebab, hasil pertandingan kompetisi tersebut tidak akan pernah diakui oleh PSSI Pusat.

"Yang menjadi pertanyaan sekarang, akan di bawa ke mana hasil dari Kompetisi Divisi III yang akan mereka gelar? Sebab, mereka sudah dibekukan dan tidak diakui lagi oleh PSSI Pusat," kata Roma.

Untuk itu, ia mengharapkan semua masyarakat bola untuk dapat memahami kondisi yang terjadi saat ini.

"Satu harapan besar saya adalah bagaimana sepak bola di Kepri dapat sejajar dengan daerah lain. Hal ini bisa dicapai, tentunya dengan dukungan semua masyarakat Kepri," ujarnya.

Saat ini, kata dia, santer terdengar ada kebingungan di masyarakat mengenai PSSI Kepri. Hal itu diduga tercipta karena adanya oknum yang mempolitisasi kepengurusan PSSI Kepri yang dipimpin Roma.

Karena di dalam olahraga tidak ada politik, tidak ada kebingungan, semuanya harus pasti.

"Sebab olahraga sangat menjunjung sportifitas dan 'fair play'. Jalan terus, semangat terus. Karena kami bersama menuju kebangkitan sepak bola Kepri," ujarnya.

Kompetisi Divisi III Kepri yang dilaksanakan saat ini yang terkesan mendadak juga dikarenakan pengurus yang lama tidak juga melaksanakan sampai sebelum keluarnya SK pembekuan kepengurusan Endi.

"PSSI bukan milik Roma, tapi milik rakyat Indonesia. Jadi saya mohon semua pihak dapat melihat pertandingan Divisi III yang tidak terkontaminasi politik dan kepemilikan kepengurusan secara pribadi," ungkap Roma.

Jika terkontaminasi permasalahan itu, maka dapat merugikan para atlet pemain bola. Pasalnya, jika tidak bertanding sangat disayangkan. Padahal mereka sudah berlatih untuk memajukan sepakbola dan prestasi mereka.

"Jadi mari dilihat bakat-bakat pemuda yang suatu hari kelak mampu menjadi pemain nasional. Karena saya sangat berharap secepatnya ada pemain bola kita yang bersinar dan dilirik pusat. Maka dari itu, di luar Divisi III, kami akan segera melaksanakan pertandingan sepak bola," kata Roma.

Salah satunya PSSI Kepri sedang mempersiapkan kompetisi Liga Futsal Amatir Indonesia. Pertandingan ini akan dimulai dari tingkat Kabupaten/Kota, lalu berlaga di tingkat Provinsi.

Selanjutnya yang terbaik akan ikut pertandingan antarwilayah. Dalam hal ini Kepri berada satu wilayah dengan empat provinsi lainnya.

Mulai dari NAD, Sumut, Sumbar, dan Riau. Bagi mereka yang juara di tingkat wilayah, akan bermain di Liga Amatir Futsal Indonesia.

"Untuk itu kami akan segera mengkonsolidasikan hal ini agar tim futsal Kepri bisa mempersiapkan diri untuk mengikuti event tersebut. Kami harus ada di Liga Amatir Futsal Indonesia," katanya.

(KR-NP/T009)



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026