
Tim Pengawas Sembako Kepri Tidak Dibubarkan

Tanjungpinang (ANTARA Kepri) - Tim pengawas sembako yang diketuai Wakil Gubernur Provinsi Kepulauan Riau Soerya Respationo tidak dibubarkan meski harga BBM tidak jadi dinaikan pada 1 April 2012.
"Tim tetap berjalan. Hari ini anggota tim melakukan sidak di beberapa kawasan perbelanjaan di Batam," kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kepulauan Riau (Disperindag Kepri), Syed M Taufik, Rabu.
Ia mengatakan, tim pengawas sembako yang terdiri dari petugas dari Disperindag Kepri dan kabupaten/kota tetap melaksanakan tugasnya karena harga sembako belum normal. Kenaikan harga sembako secara perlahan-lahan terjadi sejak pemerintah merencanakan harga BBM dinaikkan pada awal April tahun ini.
"Kenaikan harga sembako itu sebagai akibat reaksi distributor dan pedagang yang berlebihan," ungkapnya.
Tim pengawas hingga sekarang belum menemukan adanya penimbunan sembako. Tim akan menindaklanjuti sesuai dengan ketentuan yang berlaku jika terdapat distributor atau pedagang yang menimbun sembako.
"Untuk sementara kami menyimpulkan kenaikan harga sembako bukan disebabkan spekulan," ujarnya.
Ia mengemukakan, Disperindag Kepri secara rutin melakukan survei terhadap 25 komoditas kebutuhan masyarakat. Hampir semua komoditas kebutuhan masyarakat merangkak naik sejak pertengahan Maret 2012.
"Kenaikan harga beras kualitas menengah, cabai merah dan rawit, gula, telur, daging dan sayur-sayuran masih harus diwaspadai," katanya.
Syed meragukan hasil survei yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri yang menyebutkan Batam hanya terjadi inflasi 0,20 persen dan Tanjungpinang deflasi 0,20 persen. Keraguan itu muncul lantaran harga komoditas kebutuhan masyarakat masih tinggi.
"Yang lebih aneh itu jika Tanjungpinang mengalami deflasi, karena sebagian barang kebutuhan masyarakat Tanjungpinang itu didistribusikan dari Batam," ujarnya.
Kepala BPS Kepri, Badar mengemukakan, komoditas yang disurvei BPS sebanyak 360 jenis. Sebagian komoditas kebutuhan masyarakat pada Maret 2012 naik, namun tidak mempengaruhi inflasi karena lebih banyak harga komoditas yang turun.
Perubahan harga-harga pada 67 komoditas menjadi pemicu deflasi di Tanjungpinang. Sebanyak 22 komoditas di antaranya mengalami penurunan harga yaitu ikan selar, ikan tongkol, sotong, ikan kembung, kangkung, ikan belanak, cumi-cumi, bayam, bawal, tomat sayur, ikan tenggiri, buncis, jeruk, ikan kakap merah, minyak goreng, tomat buah, "pampers", dan celana dalam pria.
Sebaliknya, tercatat 45 komoditas lain mengalami kenaikan harga, antara lain, beras, keramik, cabai rawit, sate, kerang, emas perhiasan, sepeda motor, rokok kretek filter, bedak, rokok kretek, obat dengan resep, gulai, pompa air listrik, korek api gas, apel, besi beton, semen, kayu lapis, bensin, susu untuk bayi dan kemeja panjang sersin.
Sementara perubahan harga pada 67 komoditas menjadi pemicu terjadinya inflasi di Batam pada Maret 2012.
Sebanyak 43 komoditas diantaranya mengalami kenaikan harga, antara lain, bayam, tarif parkir, daging ayam ras, cabai merah, kangkung, sawi hijau, mobil, ice cream, besi beton, bensin, cabai rawit, pasir, beras, telur ayam ras, sabun mandi, parfum, jeruk, dan dencis.
Sebaliknya, tercatat 24 komoditas lainnya mengalami penurunan harga, antara lain, kacang panjang, ikan selar, bawang merah, cabai hijau, ketimun, tomat sayur, kentang, wortel, anggur, terong panjang, cumi-cumi, ikan tenggiri, kembang kol, ikan kakap merah, buncis, emas perhiasan, udang basah dan pembasmi nyamuk.
(KR-NP/S023)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
