
Perdagangan Masyarakat Serasan dengan Malaysia Gunakan Ringgit

Natuna (ANTARA Kepri) - Perdagangan antara masyarakat Indonesia dan Malaysia di perbatasan, yakni di Pulau Serasan, Kabupaten Natuna, Provinsi Riau, saat ini tetap berlangsung dan menggunakan mata uang Malaysia, ringgit.
"Perdagangan yang terjadi antara masyarakat Indonesia dan Malaysia di Pulau Serasan telah terjadi sejak lama," kata salah satu warga Serasan Timur, Rohimin (45) Senin di Ranai.
Dia mengatakan perdagangan lintas batas inipun terkadang masih menggunakan mata uang asing, yakni Ringgit.
"Masih ada yang menggunakan ringgit, namun tidak marak seperti dulu," sebutnya.
Perdagangan ini bermula dari saling membutuhkan sejak turun temurun ditambah pula karena serumpun.
"Jarak Pulau Serasan dengan Malaysia bisa ditempuh dengan perjalanan enam jam saja dengan menaiki pompong," jelasnya.
Dia menyebutkan Semantan yang terletak di Malaysia Timur dan Desa Arung Ayam dan Air Nusa.
Selain perdagangan yang menggunakan ringgit, juga terjadi barter dengan barang.
"Misalnya dari Pulau Serasan ada pedek, tikar dan ikan karang. Sementara dari Malaysia berupa kecap, gula pasir dan beras," rincinya.
Interaksi masyarakat dua negara ini terus terjadi karena didukung letak geografis yang saling berdekatan.
"Selain itu, musim utara yang terjadi turut menunjang terjadinya perdagangan itu, karena jaraknya yang dekat dibandingkan dengan pulau lainnya di Kabupaten Natuna," paparnya.
Bahkan, interaksi dua masyarakat berbeda negara ini diketahui bukan hanya melalui perdagangan, namun juga terjadi perkawinan.
"Dulu sudah lama sekali, sekitar sepuluh tahun lalu," sebut Rohimin yang juga Kepala Seksi Pemerintahan Masyarakat Desa.
Tentu saja, jika terjadi perkawinan, hal ini tidak melalui prosedur layaknya mengikuti UU kewarganegaraan yang sudah diatur.
"Karena itu, Camat Serasan Timur pernah juga menanyakan bagaimana prosedur perkawinan campur ini," ujar Kepala Pengadilan Agama Natuna, Zakaria.
Namun, Rohimin mengaku tidak mengetahui jika ada perkawinan campur belakangan ini di Pulau Serasan Timur.
"Mungkin hanya untuk antisipasi," tutupnya. (KR-RST/R010)
Editor: Rusdianto
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
