
Distanak Natuna Temukan Daging Ayam Tak Layak

Natuna (ANTARA Kepri) - Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Natuna, Darmansyah, Jumat mengatakan sebanyak 70 kg daging ayam broiler tak layak konsumsi asal Surabaya ditemukan di Pasar Ranai, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau.
"Daging ayam tak layak konsumsi tersebut langsung kita sita dan dimusnahkan, agar tidak membahayakan bagi masyarakat," ungkapnya di sela pemusnahan daging ayam tersebut di Batu Sisir, Ranai, Natuna.
Karena, menurutnya sebanyak 70 kg daging ayam broiler tersebut sudah berubah warna menjadi kebiruan dan disimpan selama empat bulan di cold storage yang suhunya tidak sesuai.
"Jadi, bisa dikatakan daging busuk," tegasnya sambil menyebutkan daging potong tersebut berasal dari Surabaya.
"Bisa dibayangkan perjalanan dari Surabaya melalui kapal saja sudah memerlukan waktu yang lama, ditambah perjalanan dari Pelabuhan selat Lampa hingga ke Pasar Ranai yang memakan waktu tiga jam," jelasnya.
Penemuan daging ayam potong broiler ini saat dilakukan sidak di Pasar Ranai bersama pihak distanak dari provinsi Kepri.
"Bermula dari kedatangan pihak Distanak Kepri yang bertujuan mengambil sampel untuk jenis daging di pasar Ranai," ujarnya.
Namun, ketika tiba di pedagang ayam potong yang tidak mengetahui rombongan dari distanak, tanpa sengaja mendengar obrolan pedagang tentang daging yang suda lama.
"Langsung saya suruh buka colt storage tersebut, ternyata benar daging tersebut sudah disimpan selama empat bulan dan berwarna kebiruan serta berbau," urainya.
Penemuan tersebut langsung disita, lanjutnya dan pedagang Edy (34) diminta keterangan yang benar.
Sementara Edy yang sudah empat tahun berjualan daging di Pasar Ranai membenarkan daging potong tersebut memang sudah tidak layak konsumsi.
"Rencananya sudah lama ingin kami buang, namun belum sempat," ujanya membela diri. (KR-RST/M009)
Editor: Rusdianto
Pewarta :
Editor:
Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
